Riding test Yamaha T Max, menakjubkan

SONY DSC

Posting ini adalah bagian terakhir dari trilogi posting tentang T Max, ini link posting yang pertama dan ini link postng kedua. Tempat riding test T Max adalah masih di dalam komplek di bilangan Puri Indah Jakarta Barat masih di kediaman yang punya T Max ini, boz Agus Juraganhelm.com. Jalanan dalam komplek tersebut cukup variatif, umumnya lebar dengan aspal baik, beberapa jalanan sepi, sementara di beberap tempat lagi banyak perempatan tanpa lampu merah yang cukup ramai dan … juga banyak polisi tidur.

Di test dalam komplek karena nomor juga belum keluar sih bro.

SONY DSC

SONY DSC

arantan-agus-tmax-1

Tinggikah T Max?

Ketinggian jok T Max memang agak tinggi, tapi tidak banget, walau demikian banyak orang akhirnya jinjit juga di T Max, karena joknya lebar bro! 🙂 Dengan tinggi badan saya yang 170 cm, kaki saya hanya bisa menapak setengah bagian depan. Tapi dengan berpijak setengah kaki, saya sudah bisa  untuk memundurkan si T Max jika di aspal datar.  Kalau permukaan jalan licin apalagi ditambah turunan/naikan, ngeri juga, demi keamanan lebih baik turun dari motor saja.

Saya baru tahu juga kalau beratnya T Max ternyata 220 kg, tapi betul, tidak terasa baik saat diam apalagi bergerak. Soal takut jatuh saat motor diam, saya lebih ngeri dengan motor dimana kaki saya full jinjit seperti Kawasaki Versys atau Piaggio X evo, mau maju dan mundur dorong pakai kaki pun jadi tidak ada tenaga.

Kaki Agus yang bertinggi 175 cm, lebih bisa menapak dari saya. Itu pun saya lihat tidak menapak dengan mantap. tapi saya rasa kalau dia pakai sepatu tebal pasti bisa menapak. 

Riding Position

arantan-agus-tmax-2

Saat riding T Max kaki saya bisa selonjor ke depan, posisi stang agak di bawah dan lebarnya stang tidak begitu lebar. Posisi stang agak ke depan, jadi badan rider di tarik dan sedikit dipaksa untuk tegak. Padahal skutik yang memang di design untuk di riding dengan kaki selonjor ke depan umumnya punya stang yang justru maju ke pengendara. Tujuannya supaya pengendara bisa relax menyender ke belakang.

Tujuannya apa? Mungkin untuk mengejar kewaspadaan, karena posisi ridingnya lebih tegak pengendara jadi lebih awas dan waspada, lain seperti mengendarai maxi scoot untuk jarak jauh.

arantan-agus-tmax-3

Manuverability

Waktu saya coba, berat T Max terasa banyak di bagian bawah motor, jadi memudahkan saat menikung baik pada kecepatan rendah maupun menengah. Untuk membelokan skutik ini tidak perlu sampai geser-geser pantat. Ringan kok.

Pada super low speed, memang pengendara seperti bisa di bawa motor, kalau gas tanggung-tanggung. Tapi begitu ketemu caranya ya asik-asik saja kok. Intinya sih gas yang pas saja, jangan ragu-ragu atau takut-takut, tapi juga tentunya juga jangan di blayer!

Tarikan

Motor ini bisa dibawa pelan, dalam komplek ataupun saat bermacetan. Tidak akan batuk-batuk kemudian mati mesin, tapi ketika sedikit di betot gas, akan sangat terasa hentakan ke belakang. Body T Max yang berat membantu untuk membuat dia mantap dan makin di tarik seperti makin mencengkram aspal. Windshield pun juga sangat ampuh menahan angin.

Tarikan diimbangi juga dengan begitu sensitifnya rem depan serta belakang. Hanya di remas sedikit langsung ngerem dengan mantab bro, jadi untuk T Max ini rasanya perlu diperlakukan dengan halus. Saya bayangkan kalau ada yang pindah dari moge sport bike, kemudian bawa T Max, kemudian salah remas rem belakang dikira kopling… mantab!

Suara tidak zing-zing, tapi terasa mogenya. Suaranya T Max tidak halus, dia berdengung. Untuk beberapa orang suara standardnya terlalu halus, ganti knalpot?

Suspensi

SONY DSC

Ya… sama dengan mobil kelas menegah lah.

Waktu melibas polisi tidur, goncangan bisa dikatakan tidak terasa. Kalau kita tekan-tekan joknya T Max saat diam memang terasa sangat keras, tapi saat melibas polisi tidur, suspensi mendatarnya mampu meredam goncangan dengan baik.

Overall… Untuk di bawa riding sangat enak dan nyaman, di bawa pelan mau, di sentak pun mau, mantab!!!

Iklan

36 Comments Add yours

  1. Yoshi berkata:

    Berat banget ini matik.
    Gak cocok dong buat cewek-cewek ABG.

    1. pak tarno berkata:

      yg pasti gak akan dibikin modif alay ban ceking 😀

  2. callmewhy berkata:

    berbahagialah buat yg tinggi badannya spt orang2 eropa…. 😀
    buat ane yg tingginya sm kyk haji tmc, kalo naek T-max dan sejenisnya malah kayak tenggelem dibawah windshield… hahhaa

  3. Juragan Helm berkata:

    Thanks buat review-nya om 🙂

  4. bousquet191 berkata:

    mantab..
    Jangan di blayer. Wkwkwk 😀

  5. mbahmanten berkata:

    5x harga PCX, tapi kalau dari posisi riding nyaman mana Mas sama PCX.

  6. kadalaspal berkata:

    berapa kali bilang mantab om?

    pokoke mantab

  7. stevant berkata:

    Naro nomer polisinya dimana nih? Apa kaya unit tester di taruh di bagasi? 🙂

  8. gc133hijrah berkata:

    Kapan ane punya yaa… Amiiiin….

  9. kym-sym berkata:

    waaaaaaaaaaa……….. motor mahaaaaaaaaalllllllllllll 😀

  10. kekx yang punya warung mw beli neh…
    pcx nya bakal di lego….

    hahha

    1. arantan berkata:

      Waks! Kalo pengen ya PENGEN!
      Tapi apa daya duit belum ada :).

  11. adit piaggio berkata:

    besok mampir ah ketempatnya om agus, mau nyobain…:p

  12. mydasign berkata:

    dengan adanya maxi scoot via ATPM bikin kebanyakan orang yg gak mampu beli beralih ke PCX dkk… pengen ngrasain matic gede dengan harga wajar.hehehe

  13. er purpone berkata:

    semuanya mantaf, kecuali harganya.. Hehe

  14. old blade berkata:

    kl d ganti knalpot racing,merdu ga om,kan 2 cyl kek ninja 😀

  15. abadi83 berkata:

    Kmaren pas ke belgia merhatiin tmax pake knalpot standar sama yang racing masih seneng ngliat yang pake standar apalagi pas akselerasi dari awal ,kalo yang racing agak gmana gitu karna matic nggak ada jeda suaranya hehehe,

  16. gak kebayang hargga rollernya berapa.. wkwkwk

    1. pak tarno berkata:

      rollernya seperti beban timbangan di pasar, wkwkwkk

  17. Dide Irvin berkata:

    yg naik T-Max, ganteng nya naik level 99 :mrgreen:

  18. Evan berkata:

    Tunggu ada secondnya Om, terus boyong deh.. Naik kelas dari PCX 🙂

  19. robain berkata:

    knalpotnya kurang harmonis…baru kali jni liat design pabrikan panjang mufler sampai sejajar spakboard belakang…yg atasnya pula…lainnya udah mantap..

  20. brigade jalan raya berkata:

    mas taufik belum kasih testimoni nih! tapi mas aratan boleh juga kasih feelingnya. seharusnya test akselerasi juga tuh. beda gak sama moge 😀

    memang kayak mobil sedan gitu yach! wuzzzz wuzzzz 😉

  21. Mr_Long'S berkata:

    motor ratusan juta punya juragan helm
    tapi ditest ride tdk menggunakan helm *ironi

    1. why? berkata:

      bner banget bro,.,.piye toh mas arantan??
      masa cuma karena biar keliatan muka yg punya sih,.,.show off,.,.haha

    2. Juragan Helm berkata:

      Sebenarnya kemarin memang bukan untuk “test ride” bener2 bro… cuman foto2 di taman depan rumah aja.
      Proper test-ride seperti akselerasi, top speed, cornering dll mungkin akan dilakukan setelah plat nomor & stnk sudah keluar, pastinya dengan proper gear juga dong 🙂
      Kalo masalah pake helm, saya ke minimarket/atm depan komplek juga harus pake helm…. (boleh ditanya ke bro arantan deh) hahaha…

  22. yusto berkata:

    huehehehe kalo udah nyobain maxi scoot jadi ga pengen beli moge biasa

  23. Istanamurah berkata:

    itu tuh om yang paling saya suka kalo ada polisi tidur tapi tidak terasa melibasnya,, wkwkwk, kayak dunia itu indah pokoknya.. 😛

  24. Grosirfitnes berkata:

    yang baru sekarang N Max ya ? dibanderol 22 jutaan?? kayak vixion harganya.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s