Oleh: arantan | November 27, 2013

Gimana kalau polisi juga ngambeg dan mogok?

Menjadi polisi Indonesia tidak mudah. orang Indonesia terus terang saja banyak yang bandel, susah diatur, selalu saja mencari celah dan ketika mau ditindak seringkali dibilang sadis, tapi jika tidak ditindak pun ketegasannya dipertanyakan. Sering dihujat, kredibilitasnya juga sering di ragukan, pokoknya salah polisi lah!

Tapi baca-baca soal pemogokan dokter saya jadi appreciate kepada Pak Polisi, untung saja para bapak dan ibu polisi kita tetap bertugas pada umumnya, mereka pun saat ini lebih terbuka terhadap kritik, mau lebih mendengarkan masukkan dan juga perlahan memperbaiki diri menjadi lebih baik, pelayanan pun saya akui makin membaik walau kalau mencari kesempurnaan… ya belum lah.

Setahu saya setiap profesi punya kode etik, aturan dan batasan norma profesi yang harus diikuti. Dan kalau sampai dilanggar biasanya ada mekanisme untuk memperbaiki diri, semua profesi tidak bisa anti kritik. Untungnya pak Polisi setahu saya tidak pernah sampai ngambeg! tidak berkirim surat. “Maafkan kami kalau satu hari ini kami terpaksa tidak bertugas …, bagaimana kalau para dokter saja menggantikan profesi kami” Bagaimana kalau nantinya banyak profesi seperti itu?

Atau sebaliknya harusnya ada kekebalan hukum berprofesi saja? Misalnya ada supir bis nabrak, Pak supir tidak bisa dituntut kelalaian, karena ini sudah the bestnya dia, tidak ada jaminan kan naik bus 100% selamat? Pilot nabrak, air traffic control, juga perlu kekebalan hukum, tidak ada jaminan kan naik pesawat harus selamat? Wah, setahu saya bahkan prajurit di medan perang pun punya aturan banyak, rules of engagementnya gimana, siapa yang bisa di serang. Jangankan dokter, hari gini bahkan pemuka agama seperti priest pun harus meminta maaf waktu ada kehebohan kasus beberapa kali pelecehan seksual.

Punya pengalaman atau pernah mendengar dokter Indonesia salah diagnosa? Haduh, pastinya bertumpuk-tumpuk! Saya masih ingat dulu dokter THT di poliklinik rumah sakit di dekat rumah. Si dokternya sudah kami wanti-wanti, kemungkinan anak saya alergi lho, apa nggak ada obat lain? Saya soalnya alergi sama Velosef itu, jadi anak saya sangat mungkin juga. Bukannya mendengarkan si dokter malah nantang, nggak mungkin! Kata siapa?! Saya yang dokter! Nggak ada alergi itu! Jangan percaya kata orang! Alergi itu harus ditest, harus diuji! Bla-bla-bla… Akhirnya sebagai orang awam kami turuti, dan meminumkan obat tersebut ke anak, dan…. akhirnya ya betul-betul alergi, seluruh badan jadi bentol merah-merah, sampai mata bengkak, meler terus … Mestinya saya balik dan tonjok saja si dokternya. Saya gampang napsu kalau sudah masalah anak. Sebagai pasien kami bisa apa? Ya paling pindah dokter saja, apakah ada tuntutan pada dokter tersebut?

Dan… tentu banyak cerita yang jauh lebih parah, salah diagnosa sampai menyebabkan pasien meninggal. Si dokter tentu tidak mau dipersalahkan, alasannya tentu banyak, diagnosanya berdasarkan hasil lab dan pengalaman dia.. ini sudah the best he can do, pasien harus terima saja. Kalau salah diagnosa,kemudian sampai mati ya sial pasiennya saja.

Bukan berarti semua dokter itu jelek lho, sudah banyak juga saya bertemu dokter yang komunikatif, mau menjelaskan sakitnya dengan jelas, terbuka pada kemungkinan dan tentunya menyembuhkan penyakitnya. Juga ada dokter yang rela hidup sederhana hidup di daerah terpencil, mengabdi pada masyarakat dengan imbalan sekedarnya. Saya pun juga terus terang beberapa kali pernah sakit parah dan kemudian disembuhkan oleh dokter.


Responses

  1. lom bisa komen banyak, masih simpang siur…soal alergi anak akhirnya gimana? paling gak tuh dokter harus tau kesalahan diagnosanya…

    http://kobayogas.com/2013/11/19/musim-hujan-rintik-rintik-solusi-cerdik-memakai-skutik/

  2. aku alergi sama yg namanya polisi,dokter dll

  3. soalnya diindonesia tercinta ini banyak….
    profesi karbitan…mau bukti taya pa polisi jdi polis hbis brapa….tanya docter jdi dokter hbis brapa…jdi walikota gubernur wkil rakyat mentri….bla bla yg lainnya hbis brapa? ujung2nya cri jln buat blik mdl apa yg udah dikeluarkan…ya ujungnya pungli korupsi dan sejenisnya…tpi orang yg puya kompentensi dibidangnya ditendang…bayak orang pinter karna otaknya bkan paktor uang yg main…byak yg sakit hti kerja untuk bangsa lain……

    • Jadi dokter habis biaya banyak ya karena emang sekolahnya mahal oom, bukan karena suap menyuap. Tapi apa oom tau dokter yang internship itu gajinya berapa? 1,2 juta, jauh lebih rendah dari Upah minimun buruh dan ga ada yang demo minta kenaikan loh…
      Demo yang lalu para dokter menolak kriminalisasi bukan karena merasa kebal hukum, tapi justru ingin perlindungan hukum yang bersandar pada etika kedokteran. Yang bisa menilai tindakan medis itu malpraktek atau bukan ya jelas harus punya kompetensi keilmuan di bidang kedokteran. Apa jaksa dan hakim itu merasa sudah memiliki kompetensi kedokteran sehingga walaupun Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia dan Majelis. Kehormatan Etika Kedokteran Indonesia menyatakan tidak ada malpraktek tapi jaksa dan hakim memaksakan untuk menggunakan pasal pidana pembunuhan hanya karena pengobatan tidak berhasil walaupun sang dokter telah berusaha maksimal sesuai prosedur. Kalau hal ini dibiarkan, artinya jaksa dan hakim tidak mengenal kata gagal mengobati, kalau begitu ya mungkin sisi positifnya masyarakat yang mau jaminan sembuh dan jaminan tidak mati bisa berobat ke jaksa dan hakim saja, mungkin ilmu kedokteran para jaksa dan hakim sudah sedemikian hebatnya sehingga mereka tidak mengenal gagal mengobati….

  4. Kayaknya nggak ngaruh, di negeri autopilot ini, semua berjalan otomatis. Misalnya polisi, memang ada yg membereskan masalah, tapi lebih banyak yg bikin masalah. Jadi ya, biasa saja. Lagian mana mungkin polisi mau mogok, sampingan mrk jauh lebih besar drpd gajinya. Rugi kalau mogok.

    • haha sok tau ente gan…..

  5. hahahah…😀

  6. emg kebanyakan dokter yg saya temui kebanyakan kurang komunikatif om….cm di periksa di tanya2 abis tu nulis resep dan seolah-olah lgsg ngusir!
    apalagi kl udh tua udh gt praktek rumah sakit umum pemerintah malah kita bisa di bentak kl nanya-nanya,saya aja pernah di tinggal bertengkar dokter pas lg di periksa….hebat kan

  7. hukumnya harus jelas & terlebih penegakannya. kalo blom bisa bikin hukum yg bener udah copas dulu aja:mrgreen:

  8. Pelayanan kesehatan di Indonesia untuk common problem ane masih tolelir walau kadang bojoku masih recomend cari second opinion. ..tapi dengan berat hati untuk penanganan sakit yg agak berat milih ke Penang dan udah beberapa kali (red:terpaksa).. Di sana lebih konklusif, jelas diagnosa dan ternyata total biaya bisa lebih murah adanya..

  9. sayangnya hari ini banyak dokter yg kaya tp bodoh.asal berduit bisa jadi dokter.
    maaf tp ini sudah menjadi realita

  10. Haha, lucu mengenai kekebalan hukum.
    Kalau polisi mogok makan bagaimana?

  11. yang menyembuhkan itu Tuhan, bukan dokter…..tetangga sebelah ada kecelakan patah kaki trus operasi setalah sadar udah bisa ngobrol sana sini eh kejangkejang trus meninggal

    • Nyawa di tangan yang diatas saya setuju.
      Tapi ada SOP yang harus diikuti kan, karena ya seperti saya tuliskan, kalau semuanya di lemparkan ke tangan Tuhan ya contohnya nyupir bis boleh asal saja, pilot asal saja, insinyur sipil dan kontraktor … ya tidak usah menghitung konstruksi bangunan.

    • Terus kalau ada yg mati yg bikin siapa? Terus yg harusnya dihukum siapa?

      • nih di fb ku ada dokter yg bikin status sprti ini dikutip dari vivamedica
        Sepertinya aksi SOLIDARITAS DOKTER
        INDONESIA kemarin kurang mendapat
        apresiasi. Malah banyak yang
        mencibir dan mencemooh di media,
        twitter, dsb. Oke.. Demi keselamatan
        bersama: Pasien dan Dokter! Maka
        kami akan benar2 melakukan semua
        sesuai SOP nya.
        Contoh sederhana; Jika Anda batuk
        pilek disertai demam?
        1. Anamnesis lengkap dan
        Pemeriksaan fisik, selanjutnya..
        2. Cek laborat (Hb, AL, Hb, HCT, AT,
        LED etc) dan Swab tenggorokan.
        Rontgen Dada jika diperlukan.
        3. Kultur bakteri atau Isolasi virus dari
        hasil Swab atau darah Anda.
        Memastikan jenis bakteri/virus
        penyebab sakit Anda.
        4. Test Sensitifitas obat terhadap
        bakteri/virus hasil kultur atau isolasi.
        Obat yang paling sensitif akan
        memberikan hasil yang lebih optimal.
        5. Test alergi terhadap obat yang
        paling sensitif dari test no 4. Jika
        terjadi reaksi alergi obat, maka
        dilakukan test alergi untuk obat dgn
        tingkat sensitif dibawahnya. Hingga
        diperoleh obat yang Anda tidak alergi
        obat tsb.
        6. Test fungsi ginjal dan hati,
        memastikan kedua organ tsb normal
        karena metabolisme obat yang akan
        diminum akan melewati salah satu ato
        dua2 nya.
        7. Setelah diperoleh jenis obat yang
        sesuai; kami akan mengundang Anda,
        keluarga dan pengacara Anda untuk
        menjelaskan perihal obat tersebut:
        Indikasi, kontra indikasi, cara kerja,
        efek samping, dosis, dsb. Selanjutnya
        Informed Consent dihadapan
        pengacara dan keluarga.
        8. Tet tettt.. Akhirnya obat diberikan ke
        Anda.
        9. Dilakukan monioring dan evaluasi:
        Uji kadar obat dalam darah Anda dan
        uji bakteri SETIAP HARI! Dikarenakan
        banyak hal yang dapat mempengaruhi
        penyerapan dan metabollisme obat itu
        sendiri dalam tubuh Anda, sehingga
        jika tidak sesuai dapat segera kami
        koreksi.
        10. Selesai pengobatan, Cek laborat
        lengkap lagi untuk memastikan Anda
        benar2 sembuh!
        Perlu sekitar 2-3 minggu dari Anda
        datang sampai memperoleh obat yang
        ‘sesuai’ SOP penyakit Anda, Jangan
        lupa untuk siap2 jual rumah jika
        selama Anda menunggu proses tsb:
        istri, anak dan mertua Anda ketularan
        batuk pilek Anda. Sekian! # vivamedica

        hehe pimen pak arantan

    • ya iyalahh..
      yang bikin orang mati juga tuhan. trus kenapa dokter dihukum?

  12. Gak semua dokter itu jelek, tapi yang Dokter yang berengsek itu ada.
    Aku salut kepada dokter dekat rumah saya. Dia tidak pernah narik bayaran kepada pasien yang tidak mampu. Bahkan saya tetangganya pun gak pernah disuruh bayar walau saya tergolong orang masih mampu bayar. Dokter senior, rumahnya biasa aja, mobilnya biasa aja.
    Sekali dokter itu sakit kena serangan jantung ringan…beuuuhhh…. Orang yang nengok yang doain sembuh banyak beneeeeer….
    Semoga anaknya lekas sembuh

  13. maklim bos, sekolah kedokteran aja pada nyogok ratusan juta. hasilnya ya gitu lah. hanya menang titel dokter doang.
    sebenernya dokter itu ya setara ama dukun, ahli alternatif, tabib dll. tujuan mereka sama-sama mencari kesembuhan dengan cara yg beda.
    ..
    kalo dokter mogok piye iki..?
    gak ada profesi yg kebal hukum

  14. mau jadi arsitek atau disain interior di indonesia??? gak perlu kuliah… cukup perdalam skill menggambar menggunakan autoCAD dan 3dsMAX otodidak belajar di yutub… pasti bisa… gaji pun setara dengan lulusan S1… hebat kan negara kita…. ahahihihi…

    • Designer Interior mungkin masih bisa, tapi kalau arsitek rasanya nggak sih.
      Untuk AutoCAD/Max, secara pengoperasian teknis penggambaran bisa tapi kan harus lebih lagi dari drafter.

  15. Kontradiksi dengan statement mereka ‘Sumpah Dokter’ dimana dokter itu melayani masyarakat dengan sepenuh hati. ( Lha koq malah demo ?! ). HUKUM itu harus adil, gak ada namanya dokter kebal hukum

  16. Prajurit di medan perang yg saling membunuh aja ada aturan kok,kalo salah tembak ke rakyat sipil kena HAM. . . mgkn jg berusaha kena target,tp kalo peluru nyasar. . .

  17. Kata Dosen saya pas kuliah, profesi Dokter tuh enak. Sebelum operasi, dokter pasti nyodorin kita buat tanda tangan, kalau ada apa2 gak akan nuntut. Coba kalau kita (Teknik Sipil), kalau salah hitung konstruksi trus ambruk, pasti kita yang digantung.

    • Tapi dikasus dokter ayu ini, tim dokter tidak melalui proses persetujuan keluarga trlebih dahulu tanpa ada tanda tangan pula.. Wajar kan pihak keluarga almarhumah menuntut & akhirnya MA pun mengkabuli permohonannya..

      • kalo yang gw baca2 sih artikel terkait tersebut, infusan ibu tersebut tidak di cek secara periodik.

        IMHO, bokap juga waktu di infus ketika sakit parah si suster nya selalu ngecek secara periodik.

        sampai akhirnya dokter nya angkat tangan dan ngomong secara terbuka kalau dia tidak sanggup menangani bapak saya ketika itu.

        sepertinya kelalaian dari emboli itu, air masuk keperedaran darah pasien, seharus nya ketika infusan sudah habis langsung di ganti kalo itu sepertinya tidak.

      • Betul, Bro ….. Pelayanan rumah sakitnya juga tidak bermoral.
        Pasien disuruh beli obat dan peralatan medis sendiri.

        Padahal, seharusnya, masalah bayar-membayar ini bisa diselesaikan belakangan setelah kondisi emergency si ibu terselesaikan dengan baik.

        Kalau saya baca, rumah sakit & dokternya minta dibayar dulu baru ada penanganan …
        😦

      • dr ayu blm sempat inform consent itu suatu kesalahan prosedur. tp kesalahan yg tidak fatal. krn tugas utama dokter itu secepat mgkin menolong pasien supaya selamat. kl misalnya anak sampeyan kleleken pentol atau benda yg menyumbat nafas dan sudah biru. sampeyan pilih mana lngsung dilakukan tindakan atau baca2 lembaran persetujuan dan tanda tangan dan baru dilakukan tindakan?
        ingat..sumbatan jl nafas hitunganya detik kl ga segera dibebaskan bisa wassalam.
        semua pasien dan keluarganya pasti minta dilakukan tindakan dg cepat.
        dlm kasus dokter ayu itu dy nrima pasien yg gawat darurat dan harus segera diselamatkan. kl ga segera diselamatkan mengancam nyawa ibu dan bayi. dan dokter ayu sudah menyelamatkan bayinya tp gagal menyelamatkan ibunya…
        kenapa harus dipenjara?
        kl masalah emboli udara dari infus kenapa harus menyalahkan dr ayu???
        operasi itu tim..ada 4-5 orng yg terlibat. dr ayu selaku operator bagian vital konsentrasi membedah satu2 lapisan perut, mengambil bayi, membetulkan organ2 yg dibedah, menghentikan perdarahan dan menjahit kembali. apa anda mengharapkan dr ayu mengoperasi sambil lihat infus dan mengganti infus sendiri padahal dlm opersi yg bny perdarahan infus itu harus diguyur dan bisa habis tiap 10 menit utk menggantikan darah yg hilang.
        ibaratnya anda balapan formula 1, apa anda bisa pit stop ganti ban sendiri, isi bensin sendiri. jawabanya bisa tp anda kalah krn bny waktu yg terbuang.
        begitupun dg operasi. ada dr bedah, ada asisten bagian menangani pernafasan dan pembiusan, ada asisten yg mengontrol tekanan darah, infus, ada asisten yg bagian menghentikan perdarahan, ada asisten bagian mengambilkan alat2 yg dibutuhkan slma operasi, ada asisten yg menyelamatkan bayi…
        operasi manusia itu sangat kompleks tidak seperti bongkar mesin.
        ingat.. hakim salah memutuskan perkara pahalanya 1 dan apabila benar pahalanya 2. salah menurut kalian blm tentu Allah juga menyalahkan apalagi dr ayu berusaha menyelamatkan nyawa sang ibu wlpun gagal

    • sampeyan ga ngerti yg namanya inform consent kok asal jeplak mas2.
      tanda tangan itu menjelaskan mekanisme tindakan, kebaikan dan resikonya.
      mengobati dan melakukan tindakan terhadap manusia jauh lebih sulit dan komplek drpd serpis motor atau bikin bangunan.
      dokter bukan tuhan yg bisa menjamin sembuh dan hidup seseorang. dokter hanya berusaha membantu kesembuhan. sampeyan ga simpati terhadap dokter krn sampeyan blm sakit parah misalnya usus buntu ampe ga berak 1 mgg, perut besar, demam dan muntah terus. kl tidak segera dioperasi dlm hitungan jam saja bisa mengancam nyawa. saat itu dokter bedah nolong sampeyan lewat operasi, usus yg jelek dipotong dan disambung lg. kemudian smpyan sembuh atas ijin Allah. cb smpeyan suruh insinyur temen sampeyan apa bisa ngoprasi?
      kl sdh seperti ini mgkin smpyan baru berterima kasih sama dokter.

  18. ga semua dokter jelek, juga ga semua dokter bagus, tapi secara umum kalo orang berobat ke dokter obatnya ga jauh-jauh dari ANTIBIOTIK, padahal sakitnya macam-macam…sampai-sampai tetangga saya beli antibiotik sendiri, katanya ngapain ke dokter toh obatnya juga sama😥
    kalo masalah pelayanan masyarakat itu kenapa seneng pake jalan pintas ya karena birokrasinya ribet banget, sementara waktu berharga, jadilah Indonesia seperti sekarang ini😥

  19. mereka juga manusia. http://macantua.wordpress.com/2013/11/28/tertib-nyaman/

  20. Dokter mungkin berpendapat profesi mereka adalah paling mulia… makanya kayak gitu…. coba kalo pak Tani mogok… ente semua mau makan apa?? Kalo dokter mogok seh gampang…. tinggal impor dokter dari negara lain…hehehhehe

  21. Coba dibaca disini untuk mendapatkan informasi mengapa dokter Ayu dan kawan-kawan dihukum.

    http://www.kaskus.co.id/thread/5296a05b1e0bc3c3410000eb

  22. nih di fb ku ada dokter yg bikin status sprti ini dikutip dari vivamedica
    Sepertinya aksi SOLIDARITAS DOKTER
    INDONESIA kemarin kurang mendapat
    apresiasi. Malah banyak yang
    mencibir dan mencemooh di media,
    twitter, dsb. Oke.. Demi keselamatan
    bersama: Pasien dan Dokter! Maka
    kami akan benar2 melakukan semua
    sesuai SOP nya.
    Contoh sederhana; Jika Anda batuk
    pilek disertai demam?
    1. Anamnesis lengkap dan
    Pemeriksaan fisik, selanjutnya..
    2. Cek laborat (Hb, AL, Hb, HCT, AT,
    LED etc) dan Swab tenggorokan.
    Rontgen Dada jika diperlukan.
    3. Kultur bakteri atau Isolasi virus dari
    hasil Swab atau darah Anda.
    Memastikan jenis bakteri/virus
    penyebab sakit Anda.
    4. Test Sensitifitas obat terhadap
    bakteri/virus hasil kultur atau isolasi.
    Obat yang paling sensitif akan
    memberikan hasil yang lebih optimal.
    5. Test alergi terhadap obat yang
    paling sensitif dari test no 4. Jika
    terjadi reaksi alergi obat, maka
    dilakukan test alergi untuk obat dgn
    tingkat sensitif dibawahnya. Hingga
    diperoleh obat yang Anda tidak alergi
    obat tsb.
    6. Test fungsi ginjal dan hati,
    memastikan kedua organ tsb normal
    karena metabolisme obat yang akan
    diminum akan melewati salah satu ato
    dua2 nya.
    7. Setelah diperoleh jenis obat yang
    sesuai; kami akan mengundang Anda,
    keluarga dan pengacara Anda untuk
    menjelaskan perihal obat tersebut:
    Indikasi, kontra indikasi, cara kerja,
    efek samping, dosis, dsb. Selanjutnya
    Informed Consent dihadapan
    pengacara dan keluarga.
    8. Tet tettt.. Akhirnya obat diberikan ke
    Anda.
    9. Dilakukan monioring dan evaluasi:
    Uji kadar obat dalam darah Anda dan
    uji bakteri SETIAP HARI! Dikarenakan
    banyak hal yang dapat mempengaruhi
    penyerapan dan metabollisme obat itu
    sendiri dalam tubuh Anda, sehingga
    jika tidak sesuai dapat segera kami
    koreksi.
    10. Selesai pengobatan, Cek laborat
    lengkap lagi untuk memastikan Anda
    benar2 sembuh!
    Perlu sekitar 2-3 minggu dari Anda
    datang sampai memperoleh obat yang
    ‘sesuai’ SOP penyakit Anda, Jangan
    lupa untuk siap2 jual rumah jika
    selama Anda menunggu proses tsb:
    istri, anak dan mertua Anda ketularan
    batuk pilek Anda. Sekian! # vivamedica

    hehe pimen pak arantan

    • wong lebay

  23. ilmu kedokteran itu termasuk ilmu pasti tp penerapanya kadang tidak perlu pasti.
    kl sampyan diare ampe 20x sehari dan lemas trus kl ngobati apa harus nunggu dilakukan pemeriksaan kultur bakteri penyebab dulu sampai ketemu bakteri atau virus pdhal kultur bakteri bisa memakan waktu sampe 1 mggu. stelah itu ketemu obatnya lalu dipastikan obat itu cocok apa tdk buat sampeyan dan perlu di cocokan mengenai indikasi dan kontraindikasi, efek samping dll. supaya cocok obatnya dg smpyan, harus diperiksa macem2 dl mulai mata, paru2, jantung, liver, ginjal dst.
    kl nggu semua itu smpyan bisa mati lemas dan habis uang bny.
    ga ada orng yg kebal hukum mas..
    kl dokter nilep subsidi puskesmas atau markup alat kesehatan ya harus dihukum.
    kl sampeyan cantengan kukunya dan oleh dokter diamputasi semua lenganya juga harus diukum.
    ada ada saja…masa menolong orang yg kl ga ditolong bisa mati dan ditolong pun kebetulan mati tp yg menolong dipenjara.
    kl diperlakukan seperti ini ya lbih baik tdak menolong. mana ada orng mau dipenjara.
    kl sampeyan tau data orng yg mau opersi di 1 rsud saja udah berapa mas…ratusan tiap bulan blm di rs swasta. kl dokter pada ga mau opersi trus bgaimana….
    mau dipenjara juga?
    sakpenake dewe…

    yg namanya dokter mas wlpun tidur nyenyak jam 2 malam kl ditelp operasi darurat ya brkt mas ga pake grundel. dan seperti itu hampir tiap hari. coba sampyan malem2 tidur di telp disuruh nyerpis motor atau disuruh ganti genteng ta ngecor ta..pdhal siang ampe mlm dokter juga kerja.

  24. yg menjelek2an dokter mungkin dulu mau ambil jurusan kedokteran tp gagal…hik..hik..hik…
    kl masalahnya blm pny ijin praktek kandungan… ya terang aja namanya msh skolah spesialis ya blm ada wong blm jadi dokter spesialis. kl ga boleh ngoprasi ya mana ada dokter spesialis kandungan ngoprasi pertama setelah wisuda? emang hanya baca buku saja langsung bisa operasi???
    seharusnya kl itu alasan dr ayu di tahan berarti ada ribuan dokter pendidikan spesialis yg harus ditahan krn blm pny ijin praktek spesialis.
    perlu anda ketahui ribuan pasien jamkesmas di seluruh indonesia tiap hari dioprasi sm dokter pendidikan spesialis. mereka melakukan operasi tanpa dibayar oleh pasien ataupun negara malah dokter pendidikan spesialis bayar spp tiap bl/ semester.
    lucu bener hakim yg memvonis…hakim nomor 1 kok kualitasnya begitu…wek…wekk.
    orng yg berjasa menolong nyawa orng lain tp dipenjarakan.
    bayangkan kl dokter pendidikan benar2 mematuhi undang2 dg tidak mau melakukan operasi krn blm pnya ijin..trus siapa yg ngoprasi pasien 100-150 orang dlm sehari di 1 rumah sakit pendidikan???? apa mampu dosenya jumlahnya cm 6-10 orng, pdhl 1x operasi bisa memakan waktu 1-3 jam.
    kalian boleh menerapkan undang2 ini tp imbasnya sama dengan membunuh rakyat miskin. org2 seperti ini yg sebenarnya tidak peka..tidak peduli sama penderitaan orang lain. bisanya koar2 tanpa tau maknanya

    • Tulisan Anda saya anggap tidak mewakili pendapat seluruh dokter dan calon dokter di muka bumi Indonesia ini.
      //=================
      Yang pertama, walau pakai kata “mungkin” tapi berarti Anda berasumsi:

      “yg menjelek2an dokter mungkin dulu mau ambil jurusan kedokteran tp gagal…hik..hik..hik…”

      Yang kedua adalah pembenaran, bahwa Anda berani membenarkan padahal jelas salah.

      “bayangkan kl dokter pendidikan benar2 mematuhi undang2 dg tidak mau melakukan operasi krn blm pnya ijin”

      Lha ya bayangan saya memang saat ini harusnya seperti itu mas? Ya memang seorang dokter harus punya ijin dulu sebelum beroperasi dan Anda pun tahu itu. Yang Anda sebutkan banyak yang tidak punya ijin tapi beroperasi itu di RS mana saja mas? Tolong infonya biar saya tahu.

      Bayangkan juga kalau pemahaman seperti itu dilakukan untuk semua bidang pekerjaan, kita akan punya jembatan yang dibangun oleh orang yang tidak berijazah dan certified sebagai insinyur sipil. Polisi yang masih dalam proses, hakim yang juga dalam proses untuk dilantik. Apakah ini yang Anda mau? Saya sendiri tidak, aturannya juga menyebutkan bahwa itu tidak benar, tapi dilakukan juga atas dasar “sudah biasa”. Ya kalau mau beroperasi, lulus dulu.

      Saya agree bahwa dokter pun butuh perlindungan agar bisa bekerja secara tenang. Saya juga agree kalau ada yang bilang nyawa di tangan Tuhan, tidak ada jaminan ke dokter pasti sembuh. Yang di bayar pasien adalah upayanya.

      Tapi saya tidak bisa menerima kalau segala tindakan dokter dianggap selalu benar, coba di periksa apakah upaya tersebut sudah selalu benar tidak mungkin salah?

      Harapan saya dengan kasus ini para dokter lebih berhati-hati dalam bertindak dan menangani pasien, tidak arogan, lebih mendengarkan pasien dan terus meningkatkan pelayanannya bagi masyarakat, kenapa tidak bisa dikritik untuk memperbaiki pelayanan?

      Baru-baru ini saya mengunjungi rekan kantor yang sedang dirawat di rumah sakit megah dan mewah yang baru beroperasi 2 bulan sejak diresmikan.

      Sejak awal teman saya sudah menyebutkan kalau dirinya ada kemungkinan alergi terhadap obat tertentu. Entah ada miss komunikasi dimana, turunan obat tersebut dimasukkan melalui infus. Akibatnya sampai muka teman saya membengkak, napas sulit. Akhirnya memang si dokter meminta maaf, bilang kepada susternya, “kenapa saya tidak di beri tahu si pasien ada alergi?” Kemudian barulah di pasang gelang merah tambahan di tangannya.

      Padahal soal alergi tersebut sudah di sebutkan berulang kali.Tapi ya tentu hanya “maaf” saja yang bisa di berikan, sementara tagihan tetap jalan, termasuk tentu tambahan obat-obatan karena kesalahan rumah sakit tersebut bagaimana kalau kesalahannya mengakibatkan cacat permanen? Maaf lagi.

      Kenapa sebelum memberi obat tidak bertanya dulu? Kenapa tidak di test dulu di tangan?

      Pengambilan darah pun di lakukan dengan buruk, salah tusuk di lengan sampai darah berceceran ke lantai. Ini karena beberapa perawat memang baru lulus.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: