Oleh: arantan | November 26, 2013

Ayo arogan di jalan raya!

Mungkin bagi pemotor roda dua, ketika di jalan saya bisa dianggap sebagai orang arogan.

Saya tidak mau bergabung dengan teman-teman sesama peroda dua yang selalu mau berada jauh di depan saat di berhenti di lampu merah. Saya juga tentunya tidak mau ikut beramai-ramai menerobos lampu merah seperti di lampu merah ITC Permata Hijau, ketika saya berhenti, cuman saya saja satu-satunya pemotor yang berhenti bersama-sama dengan mobil, lainnya tancap gas langsung belok kiri. Saya tahu aturan, ketika lampu menyala merah ya atau kuning ya siap-siap berhenti saja, saya bisa membaca dan tidak buta lampu merah.

Saya juga tidak mau berteduh di bawah jembatan saat hujan menunggu hujan selesai, saya punya jaket hujan, dan helm yang bagus dan tidak tembus yang selalu bisa saya bawa di bagasi motor.

Saya tidak perlu napsu untuk cepat-cepat di jalan sampai ke tujuan, tidak perlu mengejar setoran seperti supir metromini. Kantor saya, tidak ada uang kepatuhan, posisi saya kebetulan bukan di bagian operasional yang mengharuskan benar-benar harus datang tepat waktu, saya bukan kurir. Pulang ke rumah pun, saya bukan pria takut isteri, isteri tahu apa yang bisa terjadi di jalan. Kalau pulang kantor telat, asal saya sebelumnya kirim info, meeting malam, tugas luar kantor ya dia tahu dan percaya kok.

Tapi ya saat jalanan memang saya anggap memungkinkan, ya kadangkala memang saya plintir gas langsung sampai mentok. Itu pun buru-buru harus lepas gas, karena jalanan sudah padat.

Saya tidak mau memberikan atraksi di jalan, salto, koprol dan lainnya untuk orang lain, buat apa? Saya tidak mau diri saya dinilai dari seberapa cepat saya di jalan, menurut saya tidak penting. Saya rasa justru orang-orang yang harus show off di jalan adalah justru orang-orang yang terkalahkan di tempat lain.

Kalau ada motor yang terburu-buru berada di belakang saya saat berjalan pelan satu-satu, mungkin bisa jadi sebal, karena saya berhati-hati tidak mau mengenai spion para pemobil. Saya juga punya mobil dan baru-baru ini kena baret pemotor yang hanya menengok saja kemudian jalan, saya tahu rasanya di baret pemotor dan itu tidak enak.

So, mari arogan, tapi untuk yang benar!


Responses

  1. andaikan semua pemotor seperti Bapak🙂

  2. Sangat setuju om saranto….
    Yuukkk budayakan tertib dijalan

  3. ternyata, boss warung orangnya penyabar.

  4. o..jadi tertib aturan dijalan itu arogan ?

    • itu namanya sarkasme om

    • tergantung mereknya…
      terus di liat jumlah silinder nya juga…
      😉

    • itu majas hiperbola om “bocah atlantis”

  5. mari om

  6. di indonesia kemiskinan dijadikan alasan untuk bertindak semaunya

    • Koment yg brilian bro, analisanya sangat mendalam nih. Saya setuju banget ama koment anda. Contohnya mungkin seperti ini: “kaga apa2 kok baretin mobil mewah org lain, toh tuh org sanggup beli lagi yg baru, beli seribu biji jg sanggup”.

      • waktu itu liat pemotor diwawancara soal sterilisasi busway, dengan sok bijak dia bilang “ya kalo bisa jangan ditilang lah, kan kita rakyat kecil”

      • saat wong cilik semakin berubah menjadi wong licik

      • atas nama wong licik semua aturan dilanggar….giliran ditindak teriak2 bawa2 kemiskinan. “Suatu umat tidak akan dirubah nasibnya oleh Allah kecuali umat tersebut mau dan berusaha untuk berubah”

  7. whahaha…

    ternyata “Perkumpulan ISTI” juga membawa pengaruh perilaku di jalan ya..??

    ISTI = “Ikatan Suami2 Takut Isteri.. 😀 😀 😀

    • Ane setuju, karna ane termasuk didalamnya

  8. Saya manusia biasa, mengendarai motor biasa, berkendara seperti biasa dg kecepatan biasa saja, kalau hujan saya tidak terbiasa meneduh karena biasanya membawa jaket hujan biasa dan helm biasa yang biasanya agak bocor, saat di lampu merah saya biasanya berusaha patuh akan tetapi ada kalanya kebiasaan itu harus dilanggar misalnya dilampu merah dari poin square lb bulus ke arah pd indah, saya biasa mendahului kendaraan lain dg memastikan jarak aman mendahului karena biasanya motor saya lambat berakselerasi.

    • Wahhh Om duin tetanggan niyh kayanyah….. Terbiasa macet”an di Lb. Bulus – Ciputata jg rupanya😀

  9. Ah tadi pagi baru mendung sudah ada pemotor yg main sodok saja kena spion PCX saya mending kasih tangan minta maaf pas dikejar dan di jejerin ya nyalinya ciut tau salah….kalau liat dari seragamnya sepertinya karyawan perkantoran bagian operasional boncengan seruntulan pagi2….sing waras ngalah lan sabar….

  10. like this

  11. mari om…

  12. pepatah yg berlaku di jalanan jakarta saat ini : makin buru2 makin terlambat. makin doyan nyodok2 di lampu merah maka pasti makin macet. #fakta

  13. Sepertinya style kita sama tuh bro, not ordinary biker pastinya. Di saat pemotor lain pada bodo amat nyelonong mulu pas ada mobil yg mau mundur keluar ke jln, cuma saya doang yg berhenti dan ngasih jarak buat mobil itu buat mundur. Dan saya begini krn saya sadar kalo saat saya sedang bawa mobil gimana susahnya pas mau mundur ke jalan. Saya seneng melakukan itu, krn sering mendapat senyuman dan klakson tanda terima kasih, hahaha…
    Intinya saya bkn biker sejuta umat seperti yg 99% ada di jalanan Jakarta. Bila anda ingin dihargai, maka udah sepantasnya anda juga menghargai org lain.

  14. hmm
    Bukan biker “mainstream”

  15. Artikelnya asik bro,stuju 200%

  16. terimakasih bro tabikannya..
    perlu orang seperti anda…

  17. harus bijaksana memang😉

  18. kebiasaan orang indonesia juga banyakan “in time” daripada “on time” bikin arogansi menjadi2

  19. biasanya aturan di buat utk di langgar.., tp anda laen…anda hebat pak…

    • “aturan dibuat untuk dilanggar ???” …..

      So, para suami/kepala rumah tangga yang kalau dijalan raya menerapkan jargon ini, jangan marah ya kalau anggota keluarganya (istri, anak) tidak mau mendengarkan & mematuhi ucapannya …
      😀

  20. yang waras ngalah,
    yang punya motor kenceng jangan arogan,
    yang MERASA punya motor kenceng jangan alay….

  21. inspiratif, smg pemahaman spt ini bs menular k bnyk pemotor.

  22. Bagus,.. tapi ada baiknya juga ditampilkan bagaimana menjadi pengendara mobil yang santun. Alhamdulliah saya juga punya mobil ya orang bilang sih mobil sejuta umat, ketika baret di jalan karena sesuatu yang cukup lazim, saya tahu bahwa itu adalah resiko bawa mobil, kalau tidak mau baret mungkin perlu saya laminating dulu:mrgreen: atau di taroh saja di rumah.

    Ketika membawa mobil saya tidak mau menutup jalan pemotor ketika mereka semestinya bisa lewat. saya tidak menyesaki jalan yang 2 lajur menjadi 3 mobil berjejer sehingga pemotor harus naik trotoar untuk melewati saya. Saya juga tidak merasa bahwa jalan adalah milik pemobil sehingga pemotor pantesnya naik angkot saja atau bis kota. saya menyadari bahwa saya seharusnya lebih banyak bawa motor dari pada bawa mobil karena motor adalah bukti pemerataan dengan kapasitas jalan yang terbatas sehingga seharusnya didahulukan daripada mobil yang hanya di tumpangi olah satu orang yan ditambah perasaan arogan terselubung merasa lebih pantes pantes mendapat kenyamanan dengan ekonomi yang dimiliki sementara pemotor kalau perlu dimusnahkan dari jalanan. Kalau di analysa lebih mendalam seharusnya yang bawa mobil itu yang di paksa naik angkutan umum bukan pemotor karena space jalan terlalu sempit untuk menampung pengguna mobil pribadi dibandingkan motor bukan?

    Intinya saling menghargai dan menghormati adalah kuncinya,

    • setuju bro

  23. “Jangan membenarkan kebiasaan,
    Biasakanlah yang benar” ….

    Satu lagi :
    karena saya bukang kacung atau babu, maka saya tidak perlu sampai harus setiap saat memeriksa handphone, bahkan ketika harus berkendara.

  24. like this, ada temen juga sesama pemotor bukan mainstream di Jakarta🙂

  25. mantab!

  26. waaahh..hebat pemikiran nya.

  27. Setuju PakBro… walaupun sampe istri (boncenger) yg komando untuk bertindak ceroboh saat berkendara misalnya ngebut atau terabas lampu.. ane kagak bergeming.. kebaikan kudu di mulai dari diri sendiri..

  28. Arogan yg baik…

  29. …..”orang-orang yang harus show off di jalan adalah justru orang-orang yang terkalahkan di tempat lain”……

    Pernyataan yang amat sangat persis sama dengan apa yang saya pikirkan. Pemotor yang show off dengan cara knalpotnya dibuat sangat berisik dan sangat kencang biasanya adalah pemotor yang butuh pengakuan dan perhatian, butuh dilihat dan sangat butuh pujian dan menurut otaknya yang mungkin bervolume sedikit, dengan knalpot sangat kencang dan berisik maka dianggap keren bagus dan hebat. Begitu juga show off dengan gaya bermotor yang sangat berbahaya bagi pemotor lain.

    Sangat kasihan sekali pemotor seperti itu. Mungkin selama ini dia terkalahkan di tempat lain dan tidak mendapatkan pengakuan perhatian dan tidak dilirik sehingga sangat berharap mendapatkan itu semua dengan show off dijalan, dengan.knalpot yang sangat kencang dan sangat berisik serta gaya bermotor yang membahayakan.

    Sangat kasihan sekali……

  30. makasih mas

  31. kebalikan show off >> show down kah?

    • Lawan nya show off itu Show on

      ​=D​Wk̮”̮wk̮̮”̮wk̮̮”̮wk̮=))

  32. Joosss…

  33. Reblogged this on Maskur's blog and commented:
    Berbeda itu sulit, tapi bisa ….

  34. setuju

  35. jos artikelnya, saya setuju dengan anda pak!

  36. […] sebelumnya saya tulis tentang etika beroda dua, supaya adil saya share juga bagaimana contoh-contoh para pemobil di Jakarta yang bisa […]

  37. 2 jempol buat bapak

  38. Setujuuuuuu 1000000%
    Mudah”an dibaca oleh pengendara motor yg ga pernaaaah ngerti kalo jalan raya itu milik umum bukan milik pribadi..

  39. saya tidak perlu sampai harus setiap saat memeriksa handphone, bahkan ketika harus berkendara.

  40. sebelumnya saya tulis tentang etika beroda dua peluang usaha untuk mahasiswa , supaya adil saya share juga bagaimana contoh-contoh para pemobil di Jakarta yang bisa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: