Oleh: arantan | November 7, 2013

Kisah tragis, anak 13 tahun, naik motor, tanpa helm, melawan arah, menabrak

Saya baru baca kisah tragis sedih banget di Kompas edisi hari ini. Sampai diangkat kompas halaman pertama bro! Kejadian kisah sedih tersebut di Banda Aceh, tentang anak usia 13 tahun yang naik motor, tanpa SIM, kemudian tanpa mengenakan helm, kemudian melawan arah, kemudian ditabrak oleh mobil yang dikendarai polisi.

Anak tersebut bukan berasal dari keluarga berpunya, orang tuanya seorang pensiunan polisi, mereka perlu biaya sekitar 120 jutaan untuk operasi di Malaysia. Dan uang tersebut tidak mereka miliki. Si penabrak tentu membantu semampunya, tapi konon dia di posisi yang benar, sementara justru si korban di posisi salah dobel-dobel. Saat ini pun tentu Putri Shara masih belum pulih.

http://www.analisadaily.com/news/60615/ditabrak-polisi-korban-jadi-tersangka

Banda Aceh, (Analisa). Korban kecelakaan lalulintas oleh polisi di Lambung Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, Putri Shara (13), 4 November 2012, menjadi tersangka dalam kasus ini.

Padahal, anggota polisi bersangkutan, Briptu Muhammad Haikal (26) sudah menangani surat perdamaian dengan ayah korban, Tarifuddin, Desember 2012. Dalam perjanjian itu Haikal akan membantu biaya perobatan korban seikhlasnya. Keluarga korban juga menganggap kejadian itu merupakan sebuah musibah. Namun, apabila suatu saat itu melanggar kesepakatan, kedua belah pihak bersedia dituntut sesuai ketentuan hukum.

Ambil napas dulu …

Kasat Lantas Polresta Banda Aceh, AKP Andi Kirana, saat dikonfirmasi wartawan mangatakan, Putri Shara dijadikan tersangka karena dinilai melanggar aturan saat mengendarai sepeda motor.

Dari olah tempat kejadian perkara (TKP), dia memang bersalah karena tidak mengenakan helm dan belum memiliki SIM, membonceng temannya, dan tiba-tiba berbalik arah melawan arus, jelasnya.

Putri dijerat Pasal 310 Ayat 1 dan 2 Undang-Undang (UU) No 22/2009, jelasnya

Menurutnya, saat kejadian mobil operasional yang dikendarai Briptu Haikal melaju dengan kecepatan 50 km/jam, sehingga bak mobil sebelah kanan mengenai paha kiri korban yang kemudian terbanting ke aspal. Putri kemudian dilarikan ke RS Permata Hati, Banda Aceh.

Kalau kita lihat di jalan Jakarta pun ngeri… pemotor sering seperti meminta untuk ditabrak. Bisa selip-selip, potong dan memepet, bis, trailer, mungkin dikiranya punya nyawa dobel-dobel. Toleransi untuk berbuat kesalahan saat melakukan manuver-manuver berbahaya *dan tidak berguna* tersebut bisa dibilang nol.

Seolah si pemotor sendiri memang tidak menghargai mahal nyawa sendiri, tapi giliran ketabrak, dan amit… sampai celaka butuh biaya, baru bingung, biayanya dari mana? Hidup sudah sulit. Memang di jalan seperti tiada maaf, kesalahan dan pengambilan keputusan yang hanya dilakukan dalam hitungan detik, karena tidak tahan menunggu harus ditanggung akibatnya seumur hidup. Keluarga juga tentu menanggung resiko… ya lebih cepat (kalau lebih cepat lh0) beberapa detik saja apakah worth it dengan resikonya sih?


Responses

  1. Itu namanya APES !!

    • Itu namanya ceroboh. Ortunya salah dlm mengawasi anak.

  2. Mungkin memang terdengar kejam, tapi menurutku yang korban di sini memang bersalah, dan pelanggarannya bukan cuma hal kecil sih, berapa peraturan dilanggarnya sekaligus.

  3. anak polisi? emang bapaknya ngga tau aturan? ato ngga bisa ngajarin anak?

  4. kbetulan saya orang aceh ni, jujur aja saya baru pulang ke kampung 1 kali, saya ga tau keadaan Banda, tapi di kampung saya bocah2 SD sudah bawa motor keliling kampung.
    sama aja sih kaya keadaan di jakarta, orang tua ngelarang salah, ga ngelarang makin salah.

    waktu saya kesana statistik menurut warga minimal dalam sebulan 1 orang meninggal kcelakaan motor (biasanya anak SD atw SMP)

    • apanya yg salah klo orang tua melarang anaknya naik kendaraan? kan sudah ada undang2nya..klo mengijinkan berarti melanggar undang2 kan? hanya orang tua bodoh yg berpikir seperti itu

      • ga ada yang salah, pasti bener orang tua ngelarang anak dibawah umur bawa kndaraan bermotor. ga usah mikir undang2 juga dah ngerti bahayanya.
        yang jadi masalah lingkungannya, temen mainnya gimana?

  5. gw justru lebih simpati sama yg bawa mobil, gak salah apa2 tapi kena sial

  6. whoooaaa…!!!

    perilaku berkendara sepeda “pancal” yang “serba permisif”.. diterapkan saat mengendarai sepeda motor…

    Dhhuaaarrr….!!! yo wis modar..!!!

  7. APES dan tentu saja kesalahan orang tua. Putri gak pantas dihukum. yang patut dihukum adalah orang tua nya. karena membiarkan anaknya bermain kendaraan bermotor tanpa ijin.

    • Beberapa kasus, termasuk yang seperti ini, akibat dari kejadian sebagai hukuman saya rasa sudah sangat cukup. Orang tua dan keluarga tentu sudah cukup menderita, si anak sendiri apalagi. Kalau dijadikan tersangka, demi pandangan hukum mungkin memang harus juga, tapi apa tega? Yang sudah terjadi ya sudahlah, malah ya berharap semoga lekas sembuh, fully recover secepatnya.

      Kejadian seperti ini memang butuh juga sebaran, supaya ada efek jera yang meluas.

      • urusan ama polisi mah ribet. biar kata dia yang salah juga pasti di bela ama korps nya. mending jauh2 dah kalo ada polisi entah itu motor atau mobil.

        kalo perlu berhenti dulu nunggu ntu lewat, abis itu jalan maning.

      • Gua pernah di tabrak ama biker yang ngantuk, gak punya sim, motor boleh minjem . Posisi dah 100% biker yang salah, tapi kenyataannya biar gak panjang gua yang kasih uang pengobatan seilasnya, plus duit xtra buat keluarin mobil dari kantor polisi karena mobil dah sempat nginep di kantor pulisi.

      • @ perry
        Padahal nggak ada aturan ngambil kendaraan harus pakai uang. Uang itu masuk ke kantong pribadi polisi. Tapi ya gitu deh, namanya saja wereng coklat, mana ada hama yg nggak merugikan.

  8. Pdhl yo anak pensiunan poklis lho ya… Kok bapaknya ya ga ngelarang po piye… Btw hi natalia…:mrgreen:

    • jabatan ngaruh om. kalo cuma kroco ya tetep kena. kecuali ente jendral baru dah ada posisi.

      • Maksudku bapaknya ya ngerti aturan kok ya ga ngelarang anaknya bawa kendaraan pdhl dibawah umur. Apa mikirnya kebal aturan ya… Dasar mental goblog ya begitu mikirnya kali ya…:mrgreen:

      • @oom Roy
        kok jadi malah bahas pekerjaan yg bawa mobil sebagai polisi sih oom? ok saya gak menutup mata dengan banyaknya polisi yg blangsak. tapi ya dilihat kasus perkasus dong. kalo dalam kasus laka ini, pakpol yg kebetulan terlibat laka kan memang dalam posisi benar..
        masa udah dalam posisi benar masih dicari-cari kesalahannya gara – gara dia polisi?😀

      • @terong

        yups… yang salah adalah orang tua, seperti kata ane diatas.😀

        @alim
        benar, tapi yang patut disalahkan adalah orang tua nya bukan anaknya. tapi disebutkan pula kalau ada perjanjian mereka tidak saling menuntut. tapi kenapa sekarang tuh bocah dituntut? bukankah anak dibawah 18 tahun masih tanggung jawab orang tua?

  9. Anak saya cowok umur 13 tahun SMP, cuman saya kasih sepeda dan saya larang keluarga besar untuk minjamin/ngajarin bawa motor, cuman sekarang saya kasian sama dia kalo liat teman sebaya dia udah mondar-mandir naik motor tanpa helm.
    Baiknya gimana ya??
    Thanks buat yang kasih saran.

    • Adik saya SD kelas 6 om, sudah bisa mengendarai motor, tetapi hanya diperbolehkan diseputaran kampung, tidak boleh ke jalan raya, tidak boleh membonceng teman. orang terdekat biasanya mengerti kondisi psikologis anak, kesiapan berkendara, dan jika anak tsb menurut dan dapat dipercaya, tidak yang neko-neko, imho boleh ‘dipinjamkan’ tidak dibelikan.

    • jangan om, demi apapun. di UU Lantas juga disebutkan usia minimal mengendarai kendaraan bermotor itu 17 tahun. iya kalo om perhatiin anaknya main kemana aja, kalo si anak dikomporin temennya untuk main ke jalan raya. kemudian terlibat kecelakaan atau malah ketangkep polisi, malah repot. padahal simplenya tinggal bilang tidak. kasi pengertian aja kalo yang naik motor itu untuk orang yang sudah dewasa secara psikis dan fisik, tidak untuk anak-anak.

      dan untuk om Duinn, sebaiknya hentikan kebiasaan buruk tersebut sebelum terjadi apa2. karena penyesalan selalu datang paling belakang. Masyarakat kita terbiasa “kejadian” dulu baru “berpikir”. bukan sebaliknya.

      kenapa saya amit2 liat anak bocah bawa motor, karena mental bocah sama sekali gak aware dengan bahaya yang akan terjadi. yang ada dipikirannya adalah motor = mainan.
      motor yang topspeed 90 km/h apa iya merupakan mainan yang baik? jatuh dari kecepatan lebih dari 40 km/h apakah efeknya sama dengan sepeda yang paling kencang 5 km/h??

      mohon untuk orang tua agar kembali melarang anak-anaknya naik motor, JIKA anda masih sayang nyawa + fisik anak anda dari marabahaya yang nanti ditimbulkan.

  10. Tips buat blogger pemula (termasuk yg sdh karatan): http://stephenlangitan.wordpress.com/2013/11/07/dulu-ngeblog-diremehkan-sekarang/

  11. Like This.. : “sering seperti meminta untuk
    ditabrak”

  12. …. kesannya jadi kejam ….. si Putri yang berbuat salah dan dia mengalami luka yang cukup kritis ……

    Lha kalau kejadiannya seperti Dul bin Ahmad Dhani ?
    Sekarang dia sehat sedangkan korbannya meninggal ….
    😦

    • dalam 2 kasus ini, baik Putri Sara dan Dul sama2 lalai dan melanggar hukum. bedanya, kalo Putri akhirnya ketabrak, sedangkan Dul menabrak. Intinya sama, masalahnya jadi ribet, dilematis karena si pelaku adalah anak2 di bawah umur. Itulah sebabnya mereka dilarang naik kendaraan bermotor.
      Jadi inget ayah temen yg meninggal karena ditabrak anak sekolah yg ngebut naik motor. Pas kejadian, si anak nangis2 sambil ngomong kalo dia anak yatim dan dari keluarga nggak mampu. akhirnya dilepas sama orang2 di sana. Serba salah..

      • Wah kejadiannya kok mirip sama ane Om, ditabrak sama anak smp sampek motor saya ancur. Nangis2 ngomong klo anak yatim-piatu, tapi ane ngak percaya ane boncengin kerumah-nya sampek rumah bapak-nya masih seger buger. Terus ane bilang ke bapak-nya “Pak, ini uda kiamat yah kok ada orang mati hidup lagi. Kata anak ini bapaknya sudah modiar”.. Bapaknya cerita si anak baru 3 bulan kemaren abis nabrak mobil juga. Jangan terlalu percaya sama anak jaman sekarang.

      • Betul kata kenthunk, Bapakku juga pernah ditabrak anak SMA, ngakunya ortu di Jkt, padahal di rumah. Bukannya kejam, tapi konsekuensi (hukuman) harus tetap jalan, kalau nggak, nggak akan kapok.

  13. Lagi dan lagi, perlu secepatnya dibakukan kurikulum tentang berkendara. Setuju om, kalau sudah musibah tidak perlu mencari kambing hitam karena itu ruang lingkup pihak berwenang.

  14. c anak mungkin merasa “ah bapak gue pensiunan polisi gini, jd ga usah pake helm dan ga perlu SIM jg….” dan orang tuanya jg salah membiarkan anaknya bawa motor ke jalan raya….

    mudah2an anak gue atau anak mas saranto atau anak pembaca blog, nanti bs ngerti maksud para orang tua ga bolehin anak bawa motor sblm punya SIM dan tau peraturan….

  15. dulu juga temen bawa motor cuma bawa kartu asrama punya bapak nya.

    pernah ketilang cuma di sodorin kartu nya langsung di suruh jalan. gak pakai acara babibu segala.

  16. ribet
    tp harusnya ya ga usah diperpanjang urusannya kasian juga. pihak keluarga sudah sangat menderita sang anak pun dalam trauma yg luar biasa
    kita sebagai pembaca ya harus bisa ambil hikmanya

  17. pendidikan orangtua memang perlu banget. dan tetangga2x juga jgn ngebiarin anaknya masing2x.kalo ga susah..

  18. Jaman edan. Kalau gak ikut tren jadi salah. Kebanyakan yg diajarkan ortu pada anaknya adalah cara makai motor, bukan disiplin berkendara. Kaya iklan radio. Mungkin bapak anda kenal dg semua polisi, tapi bahaya tidak kenal bapak anda.

  19. setuju !! “sepertinya pemotor sekarang memang minta ditabrak” atau memang nyawanya ada 9 kayak kucing…

  20. @ oom Roy
    benar, yg salah orang tuanya oom.

    sepanjang yg saya tahu, meskipun sudah ada penyelesaian secara kekeluargaan, kalo unsur pidananya kuat, kasus pidananya akan tetap berlanjut. nah mengingat ybs usianya baru 13 tahun, IMO meski nanti kasus pidananya lanjut, hukumannya tidak akan jauh dari “si anak akan dikembalikan ke orang tua, untuk mendapat didikan yg lebih baik, dan wajib lapor 1 minggu sekali selama sekian bulan”.

  21. Yang salah jelas bapak nya si putri, uda polisi, belom cukup umur masih aja kasih anak motor, otak nya dimana? ngedidik anak yg bener !
    masih mending nabrak mobil, kalo dia nabrak anak2 kecil ato ibu hamil sampe fatal, apa bapaknya itu mau tanggung jawab?
    Paling gemes liat anak2 nyetir motor, kaki aja blom nyampe ketanah. Otak ortunya ngga nyampe ke waras.
    Bawaan nya pengen nendang tuh motor biar jatuh sekalian.

  22. sekarang saya tinggal di sinabang (daerah kepulauan di provinsi Aceh) jujur pengendara disini bisa dibilang membahayakan ada anak kecil bertiga tanpa helm semua belok semaunya dan tidak kenal rem bahkan dia merasa tidak bersalah tapi kelakuan seperti itu bukan anak kecil aja bahkan orang dewasapun seperti itu hadeuuhh mesti ekstra hati2x berkendara disini padahal kondisi kota tidak lebih besar dr kecamatan di jakarta

  23. Mesti taat pada peraturan…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: