Oleh: arantan | Oktober 15, 2013

Memilih motor tanpa melihat brandnya, sabermetric model

Belum lama saya melihat film moneyball keluaran tahun 2011, film berdasarkan kisah nyata tentang  pemilihan dan pembelian pemain untuk tim baseball. Bagi yang belum pernah lihat filmnya bisa lihat synopsis di sini dari wikipedia.

Film ini bercerita tentang keampuhan sabermetric model, bagaimana metode memilih dan membeli pemain berdasarkan statistik *saja*. Sebelumnya para talent scout Baseball memilih pemain berdasarkan meeting dan yang dibicarakan pada waktu meeting untuk keputusan membeli pemain seringkali adalah sesuatu yang tidak berhubungan contoh pacar pemain, gaya melempar bola yang kelihatan lucu, kegantengan dan lain-lain yang sebetulnya tidak ada hubungan dengan presetasi di lapangan.

Tokoh utama di film moneyball adalah Billy Beane, General Manager tim Oakland Aethletics yang menaruh kepercayaan ke Peter Brand, seorang lulusan ekonomi dari Yale yang punya metoder sabermetric dalam pemilihan pemain. Sabermetric method memetakan dan menseleksi para calon pemain dengan statistik record di lapangan, dengan sabermetric, data pemain hanya diambil yang penting dan relevan saja, data tersebut kemudian dijadikan dasar pemilihan dan pembelian pemain.

Bagaimana waktu kita membeli motor atau kendaraan?

Sebelum posting  ini saya sudah menulis ini, mari memetakan keinginan kita berdasarkan apa-apa saja yang menjadi kebutuhan atas kendaraan. Jangan melihat dari iklannya, waaah, bintang-bintangnya cwantikkkk, saya sering lihat placementnya, market share sekian… penting kah?

Coba list down dan beri bobot kepentingan pada apa-apa saja yang kita butuhkan atau apa yang menurut kita penting, contoh:

Untuk perempuan atau laki? bobot 10%

Beratnya berapa, bobot kepentingan 10%

Tinggi berapa, bobot kepentingan  … %

Bakal dipakai berboncengan atau sendirian?

… dan lain-lain

List teserbut bukan patokan, apa yang penting untuk saya bisa jadi bukan penting menurut Anda dan sebaliknya.

Oh ya… Sabermetrics Approach sendiri sebetulnya BUKAN model pemilihan ala beauty contest, yang saya sebutkan di atas sebetulnya lebih mirip scoring beauty contest.

Sabermetrics dalam bentuk aslinya memetakan berdasarkan history performa pemain, dalam hal ini performa dan history motor. Kita tidak punya data untuk melakukan sabermetric approach, contoh seberapa sering motor tertentu jatuh? Mengalami kecelakaan? Score untuk relabilitas, seberapa sering motor tertentu mengalami kerusakan? Bagaiman performanya pada tahun pertama, tahun kedua? Kerusakan pada body, tanki, footstep, karat? Seberapa bahayakah, berapa dana untuk perawatan? Parts manakah yang paling sering rusak?

Ya kita tahu data tersebut dari mana? Biaya rata-rata pemilik motor tersebut dalam waktu bulanan berapa? <<- Untuk saat ini data tersebut tidak ada, yang kita tahu “katanya” saja.  Ini yang mungkin bisa di manage komunikasinya oleh brand lho.

Atau apakah mungkin kita punya model media monitoring yang menyaring data keluhan terhadap motor tertentu, brand tertentu?

Beauty Contest memang bukan Sabermetrcis Approach, Tapi paling tidak dengan metode beatuy contest kita bisa mendekati metode sabermetrics, dalam hal memetakan keinginan dan kebutuhan.

Bukan berarti brand tidak penting lho, tapi sebetulnya apa sih yang bisa dibeli dari brand? Kalau ngomong secara marketing ala ora pinter, brand pun punya attribute yang juga penting ….

Bersambung …


Responses

  1. Metode lain yg bisa dipakai adalah AHP.

  2. TQ gans…
    Saya pelajari dulu

  3. Mungkin cuma berlaku untuk motor kelas entry level saja yg fitur dan harganya nyaris sama….

  4. Kalo ane, list tersebut penting untuk motor commuter, termasuk biaya pertahun bensinnya pun sudah ane hitung dengan kemungkinan pertamax sampai 12000 1 tahun ini.
    Sooo brand for motor commuter pasti penting buat ane.
    Ane ga berani ambil resiko utk ambil misalnya vespa lx, kecuali vespa px,
    motor yg bengkelnya ga mainstream itu membuat ane bisa pusing 7keliling saat stok spare part tidak ada.
    Pengalaman pribadi dengan tvs rockz ane. Malah jd main substitusi….
    Beda sama vespa px. Hampir semua bengkel, bahkan ane sendiri bisa ngerjain kalo ada trouble….

  5. kalo pake metode itu pasti pilihanya vario125 injek heheh

    • yg ada bintang kecil, maksud nya

  6. kalo misalnya yang dipake faktor2 non-teknis kayak gimana resale value-nya, gimana aftersalesnya, gimana suku cadangnya, bisa gak ya? atau emang relevan? karena banyak keputusan didasarkan seputar tiga kemungkinan itu

  7. Kalau konsumsi bbm vs kapasitas mesin gimana?
    Kl dipikir2 paling boros mesin cc kecil, 100++ cc konsumsi 60kml, dibanding 600cc (6x lipat cc dan power) konsumsi 17-20kml, dibanding mobil 1500cc (15x lipat) konsumsi 10kml.
    Relevan ga ya?

    • ga relevan bro kecuali untuk niat balap:mrgreen:

  8. bro.. sdh lama nih gw ngga buka lapak, numpang ya. tq
    http://stephenlangitan.com/archives/78881

  9. methods pinjem temen sebelum beli jug a bisa

  10. Nice,utmakan kebutuhan kita….

  11. seriusan, gregetan nih gw pengen bikin sautanya:mrgreen: cepetan lanjutanya mana ?

    • Lanjutin aza broooo


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: