Oleh: arantan | September 23, 2013

Demi menghidupkan industri, patutkah LCGC didukung?

Gimana kalau semua orang Singapore punya mobil? Pernah dengar ada gagasan mobil murah di Singapore? Yang ada dari tahun ketahun mobil dsiana semakin mahal. Mereka juga punya tools dan quota untuk mengkontrol populasi mobil.

Coba hilangkan moral dan tinggalkan pemikiran lain, fokus hanya ke “menghidupkan industri” memberikan mata pencaharian *saja*. Mungkin legalkan saja pembukaan ladang ganja? Atau legalkan pembukaan toko minuman keras dan boleh dijual ke siapa saja termasuk anak di bawah umur? Tidak usah lagi perduli atas akibat yang ditimbulkan dari industri tersebut.

Jadi demi memberikan penghidupan bagi rakyat, industri apapun harus didukung.

Saya sampai sekarang masih ambigu dan masih netral apakah mendukung LCGC atau tidak. Di satu sisi selain menghidupkan industri tadi, gagasan LCGC membuat mobil lebih mudah dimiliki oleh lebih rakyat. Ya argumennya: orang kaya boleh beli mobil, kenapa dari golongan prasejahtera tidak boleh? Ya bener juga kan? Tapi coba dilihat lagi, orang kaya naiknya mobil apa, sementara LCGC seperti apa? Apakah adil? Yang satu mungkin makan siangnya dimana, sementara golongan lainnya lebih sederhana? Kenapa tiket pesawat terbang mahal sementara kereta api murah? Kenapa orang prasejahtera harus naik bis saja? *nggak akan selesai*

Sementara saat ini mulai ada juga sedikit-sedikit muatan politiknya. Kesannya jadi lebih “keren” dan menarik simpati kalau menolak … Apapun yang dilakukan pemerintah pusat terlihat langsung salah, padahal juga belum tentu …

Kenapa saya dan mungkin banyak orang lagi galau? Orang cemas karena ketidak tahuan, kita bisa cemas karena tidak tahu apa yang akan terjadi dan efeknya yang ditimbulkan dari LCGC ini. Apakah ada yang bisa memberikan penjelasan secara menyeluruh, contoh: OK tahun ini pertumbuhan mobil masih sekian, pertumbuhan ini itu sekian, memang LCGC perlu semata untuk solusi transportasi.

Tanpa adanya hitung-hitungan tadi, yang ada sebatas kira-kira saja, hanya bisa berdoa saja semoga jalanan tidak bertambah macet. #eh tambah macet atau nggak? Siapa yang tahu?

BTW, Brio Satya nampak bagus, sayangnya nggak ada maticnya.


Responses

  1. ya mw gimana lg?
    toh LCGC udah meluncur… mw setuju mw kagak. mw macet mw gak ya tetep aja orang2 akan beli nie mobil. sepanjang transportasi massal masih kacau ya jangan harap macet akan teratasi.

    beberapa orang complain ketika CL penuh dan minta status eksekutif dalam CL. sehingga hanya orang2 tertentu yang bisa naik CL tersebut. jika pola pikir ini masih ada, MRT mungkin hanya impian.
    🙂

    • Negara berkembang umumnya memiliki pola jumlah penduduk dan tingkat ekonominya seperti piramida, prasejahtera berada paling bawah dan paling banyak, lalu di atasnya ada ekonomi menengah, dan di atasnya lagi lebih mengerucut adalah golongan ekonomi atas. Disini yang ribet kalau bicara transportasi umum dsb, pemerintah harus menyediakan transportasi yang nyaman dg harga murah, itukan berbanding terbalik, analoginya ketika menetapkan tarif dg harga murah dan kenyamanan tergadaikan banyak golongan menengah berpindah ke kendaraan pribadi dipastikan tidak mau menggunakan transportasi umum sedangkan jika tarif ditetapkan sesuai kemampuan golongan menengah berapa besar pemerintah harus mengeluarkan subsidi. Sedangkan negara maju pola penduduk dg tingkat ekonominya seperti belah ketupat, golongan prasejahtera sedikit, golongan menengahnya banyak, dan golongan atasnya sedikit, jadi menentukan kebijakan sesuaikan dg golongan menengah, prasejahtera disubsidi juga tak masalah.

  2. gimana kalo lcgc nya mobil niaga?

  3. Demi menghidupkan industri LCGC (kalau mobil hybrid) saya mendukung 100%.

  4. apa setiap 100 lgcg terjuall, pabrikan suruh sumbang 1 gerbong kereta, 1000 lgcg satu lokomotif, 10,000-100,000 suruh bikin rel kereta.

  5. inilah indonesia,, sebetulnya LCGC ini ibarat pancingan agar transportasi massal bisa terwujud,, soalnya kalo nga ad LCGC ntar transportasi massal murah bisa nga jadi2.. (ciri orang indonesia yg paling umum, belum akan bertindak kalo belom babak belur,, jadi kudu dihajar dulu biar nyaho..)

    • Betul bro.. kayaknya emang harus macet total dulu. Baru pemerintah mikir tranportasi masal…haha

  6. Kalau tuker tambah Mio cukup buat DPnya belum ya?

  7. semakin banyak mobil dan motor dijual
    pemerintah semakin untung dapat duit dari pajak tahunan

  8. Indonesia gak sekecil singapura….tapi di sisi lain pemerintah Indonesia belum seserius Singapura dalam mengurusi transportasi masal. Yang dikeluhkan soal LCGC kan karena disaat yg sama pemerintah pusat masih setengah hati mengurusi transportasi masal makanya ada kepala daerah yg ngambek….

    BTW coba liat New Brio yang matik (s A/T) biar bukan LCGC masih value tuh…131 juta.

    • karena pada dasarnya pemerintah takut, kalau rakyat berkumpul bersama membicarakan pemerintahan yang ujung2nya takut di demo or kudeta…

      • bukannya sudah pada demo minta harga kedelai, harga daging sapi n harga kebutuhan pokok lain jadi murah dan kayaknya pemerintah tdk takut, malah belum pernah ada yg demo minta mobil murah..

      • belom om. karena inflasi masih terkontrol, tapi nanti tunggu dollar nyentuh 17rb dulu baru entar kocar kacir…
        😉

  9. “A developed country is not a place where the poor have cars.
    It’s where the rich use public transportation”
    -Gustavo Petro- Mayor of Bogota – Colombia-

    http://www.texturetranscribed.com/blog/quote-the-mayor-of-bogota-on-cars-public-transport-and-development

    http://turnleft2013.wordpress.com/2012/09/17/rich-country-poor-country-quote/

  10. Kenapa PSO untuk PT. KAI ditahan-tahan sampai harus ngemis-ngemis ….
    Padahal pegitu PSO turun, tarif kereta langsung turun ….

    Kenapa insentif untuk bahan-bakar alternatif tidak segera ada ?

  11. pastinya dengan adanya program LCGC penjualan mobil akan tetap meningkat.
    kalau kita lihat kondisi makro ekonomi kita, misal: pendapatan per kapita saat ini mngkin lebih dari 4000 US $, kelas menengah yg pertumbuhannya sangat tinggi, dll pastinya akan meningkatkan daya beli masyarakat termasuk membeli mobil.

    nah, pilihannya utk mensuplly demand yg besar itu apakah impor CBU atau dibuat di dalam negeri.
    kalau kita lihat negara tetangga, misal: thailand, china, india saat ini mereka punya produk2 mirip dengan LCGC. kalau tdk difasilitasi pemerintah bisa jadi kita cuma jadi market pasar mereka, apalagi di tahun 2015 akan ada AEC, kemudian APEC di depan mata juga.
    saya rasa kita perlu meningkatkan daya saing di segala sektor termasuk sektor industri otomotif.

    kalau bicara k3macetan, sptnya semua sudah tahu kalau akar masalahnya sistem transportasi kita yg jelek. kalau ada pilihan mass transportasi, sepertinya orang2 akan memilih angkutan umum drpd bawa kendaraan pribadi.
    nah, apakah mkrn itu lantas orang2 dilarang beli mobil. ..?

    kalau bicara total penjualan mobil, kita baru 1, 1jt tahun 2012 dengan penduduk 250jt. coba bandingkan dengan jepang yg 3jt kendaraan tiap tahunnya. kalau jepang ketinggian, iita bandingkan dengan thailand dgn penjualan yg sama tapi penduduk cuma 80jtan.
    jadi, ratio kepemilikan kendaraan di indonesia itu masih kecil, baru 32 dari 1000 p3nduduk.
    artinya apa? dgn pendapatan per kapita yg terus meningkat, apalagi teorinya jika pendapatan sampai di UU $5000 akan mencapai masa motorisasi, maka kemampuan orang2 membeli kendaraan akan semakin besar lagi. ..

    yg diperlukan saat ini adalah bagaiman mengatur penggunaan mobilnya, yaitu mass transportasi m3njadi k3harusan…

    • Pendapat seperti ini memang tidak salah.

      Hanya saja satu pokok bahasan tidak dapat berdiri sendiri.
      Harus dikaitkan dengan bahasan yang lain.

      LCGC adalah bagian dari permasalahan transportasi.
      Permasalahan transportasi, salah satu indikasi negara yang benar adalah transportasi umum yang baik.

      “A developed country is not a place where the poor have cars.
      It’s where the rich use public transportation”
      -Gustavo Petro- Mayor of Bogota – Colombia-

      Yang menjadi masalah adalah pemerintah Indonesia tidak ada keinginan yang kuat untuk membenahi transportasi umum.
      Ini yang membuat kehadiran mobil murah menjadi bermasalah.

      Dan kembali lagi, kalau melihat angka2 penjualan kendaraan di negara lain yang tinggi, jangan dilupakan pula bahwa negara2 tersebut punya mekanisme untuk membatasi kendaraan yang sudah berumur.

      Ini masalah lagi …….

      🙂

      jadi, tolong lihatlah dari berbagai sisi.

    • Maaf, ketinggalan Bro edhoy, : “yg diperlukan saat ini adalah bagaiman mengatur penggunaan mobilnya, yaitu mass transportasi m3njadi k3harusan”

      Itulah mengapa saya pertanyakan, mengapa subsidi dan insentif untuk transportasi massal ini amat kurang ?
      Contoh nyata, PT. KAI, nilai PSO-nya hanya sampai orde Milyard rupiah.

      Sedangkan pemerintah gampang saja membangun jalan layang sepanjang beberapa KM dengan nilai Trilyun rupiah.

      Nilai jalan layang tersebut, jika dikonversi dengan pengadaan dan pemeliharaan bus Transjakarta (salah satu contoh saja), bisa mendapatkan bus sebanyak 1000 bus (sudah termasuk biaya operasional + biaya perawatan selama 5 tahun).

      Janganlah bicara MRT atau monorail (kalau di Jakarta).
      Cukup dengan KRL Jabodetabek + TransJakarta yang baik, kemacetan di Jakarta akan jauh berkurang.

  12. Mantap nie blog ..
    Artikel dan koment’a Bagus2 ..
    Jooass ..
    Nyimak wae ane .. ^^

  13. Alhamdulillah dengan adanya LCGC, saya yang bekerja di industri spare part asli dalam negeri jadi terbantu. Pasar luar negeri lagi lesu coy, hampir 40% karyawan dirumahkan. Sementara industri spare part dalam negeri juga dihajar produk China, pabrikan nakal pasti lebih memilih produk China yang lebih murah. Dengan adanya LCGC, setiap spare part di audit asal usulnya sangat membantu industri dalam negeri untuk bernafas.

    Untuk urusan jumlah kendaraan yang beredar, tinggal bagaimana kebijakan pemerintah mengatur peredaran, dan distribusi kepemilikannya. Orang berpenghasilan 5-6 juta bejibun, tapi sampai saat ini golongan tersebut hanya mampu menampung 2-4 motor dalam rumah, tapi gak kebeli mobil. Ini yang miris kalau dikaitkan dengan masalah safety dalam berkendara. Sementara sebagian orang menumpuk mobil di rumah, dengan beragam corak, fungsi dan dimensi. Mereka-mereka inilah biang macet jalan tol, jalan ke parkiran hotel dan mall. Dengan adanya pajak progesif dan kewajiban pengunaan BBM non subsidi diharapkan beliau-beliau ini mengurangi jumlah kendaraan dan aktifitas keluar rumah sendirian. Jadi cur cor ini mah…

  14. inti nya sih transportasi masal d benerin dulu,ane yakin pertumbuhan mobil & motor bakalan terhambat (mau yg murah,mau yg mahal)
    tpi sepertinya ga mungkin,transportasi bakalan lancar d negeri ini😦 selain karena transportasi yg kacau,indonesia juga sangat luas & ga semua daerah d lalui transportasi umum,mkanya ga heran pertumbuhan motor begitu cepat

  15. Ya argumennya: orang kaya boleh beli mobil, kenapa dari golongan prasejahtera tidak boleh?
    ————–
    Harga mobil LGCC yang antara 70~90 jutaan untuk golongan prasejahtera?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: