Oleh: arantan | September 21, 2013

Apakah ada konsep transportasi?

Hah *konsep transportasi*? Iya ya? Harusnya Jakarta punya ya? Kok nggak pernah denger. Kata bagus ini saya dengar dari Kompas atau Tempo *lupa*.  Kalau plan sepetak-sepetak mungkin ada, konsep angkutan umum misalnya dari utara-selatan, barat-timur, kemudian ada loop jalan tol dalam kota dan lain-lain. Konsep busway nya pun ada. Bahkan mungkin ada rancangan sampai melibatkan kota-kota satelit di sekitaran Jakarta.

Tapi kalau secara integrated gimana ya? Semoga ada tapi belum di share saja. Konsep Jakarta bertransportasi atau master plan yang mengintegrasikan semua angkutan termasuk kendaraan pribadi, mobil – motor – ojeg – metro mini – bis kecil – bis besar – transjakarta dan teman-temannya. Bagaimana para penduduk Jakarta bisa ke sekolah, ke tempat kerja dengan aman, nyaman, cepat.

 

Ya mungkin bikin plan memang nggak bisa 100% ter realisasi, namanya juga pemerintah daerah mungkin ada kebijakan yang diluar kendali. Seperti sekarang kalau ada ledakan populasi kendaraan pribadi roda empat akibat LCGC bagaimana efeknya? Contoh penyerapan LCGC di Jakarta sekian mobil, kalau digunakan semua bagaimana?

Cuman mau nanya aja sih… 5 tahun kedepan saya harus naik apa ke kantor? 10 tahun kedepan bagaimana? Kalau sekarang macet, caranya supaya 5 tahun kedepan kemacetannya berkurang bagaimana? Bagaimana pertumbuhan penduduk, pertumbuhan angkutan, jalan. Apakah ada planning yang melegakan? Atau ya sama-sama *lihat nanti* saja?

Ada yang tahu?


Responses

  1. Kalau solusi ala saudara saya itu tinggal dikota mandiri pak. Kota mandiri kan semuanya ada. Selain pemukiman ada pusat perbelanjaan, pusat kkuliner, sekolah, rumah sakit, pusat rekreasi, area perkantoran, sport club, dsb.
    Kebetulan saudara saya tinggal di BSD. Dia ngantor di sekitaran sana juga sewa rukan punya usaha sendiri. Anak-anaknya sekolah disana juga. Mau belanja gampang. Kalau sakit RS deket. Mau makan (jajan) gampang. Nyari apa aja nyaris tersedia disekitaran rumahnya. Pernah juga sih njajal nginep dirumahnya. Ternyata enak juga. Tapi ya minimal punya motor buat muter-muter. Karena nggak ada angkot hehehe.
    # itu kan solusi ala dia, kalau saya sih masih ngimpi bisa kayak dia pak heueheueheueheuheu

  2. Sudah ada om, untuk jalur kereta, mrt, dan monorail yang terintegrasi dg transjakarta. kalau jalan tol mungkin masih terkendala masalah pembebasan lahan. cmiiw.

  3. Konsep mah ada, realisasinya yg lama….apalagi kalau gak di dukung pemerintah pusat

  4. Saya lebih senang kemana-mana pake kereta. Murah dan anti macet. Bawa motor dari rumah ditaro di stasiun. Kalau untuk melanjutkan ojek bisa jd solusi. Pake kendaraan pribadi macam mobil atau motor di jakarta sudah ga nyaman. Kecuali kalau bawa barang yang susah ditenteng mau ga mau harus pake mobil

  5. pak arantan, saya rasa yang saat ini perlu dilakukan adalah bukan menciptakan konsep transportasi dulu deh pak, karena yang saat ini perlu dilakukan adalah mungkin menciptakan tata ruang kota yang benar, beberapa aktifitas yang vital mungkin perlu digeser sehingga tidak saling mengganggu, kemudian daerah yang dijadikan sebagai pusat perdagangan perlu di pusatkan menjadi beberapa titik, kemudian sediakan pula beberapa tempat yang di pergunakan untuk hunian, kantor, sehingga tidak saling bersinggungan, setelah itubari dipertimbangkan sarana transportasi yang akan digunakan, apakah itu menggunakan MRT yang akan diintegrasikan dengan moda transportasi lain, ataukah tetap mengandalkan bus yang sudah beroperasi.. sekali lagi ini hanya opini belaka..

    • Iya, ngobrol aja bro…
      Kalau secara tata kota saya rasa Jakarta sudah sulit untuk di kontrol.
      Hunian bisa muncul dimanapun, termasuk juga mall dan perkantoran, kalau teori dulu harusnya ada zoning, pemukiman dengan fasum – fasos, kemudian daerah/zone industri, zone perkantoran dan lain-lain. Tapi justru zoning yang terpisah-pisah begini membuat traffic, pulang-pergi kerja jadi tinggi.

      Setelah itu muncul teori yang lebih baru, yaitu superblock, dimana satu block/bangunan punya fungsi beragama/mixed use buildings. Contoh: Superblock Pacific Place di SCBD, dimana di situ ada hotel – residence – shopping mall – sampai pacific one yaitu perkantoran. Dengan begitu memang si warga diharapkan tidak lagi harus bertransportasi.

      Nah untuk menata kota yang sudah jadi… apakah memungkinkan?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: