Oleh: arantan | Agustus 28, 2013

Marketing Segmentation

1scarabeo_125200ie_42

Mbah dukun baru posting 2 artikel tentang marketing, kedepannya mungkin bakal ada susulan posting lainnya dari mbah dukun sebagai sambungan. Marketing communication ada kuliahnya bro orang belajar itu tahunan, jadi menurut saya termasuk ambisius juga untuk di jadikan posting dalam blog. Ini posting mbah Dukun yang terakhir.

Saya asumsikan mbah dukun menyimpan keraguan sebelum memposting tentang marketing, mungkin takut menyinggung. Karena mau nggak mau salah satu segmentasi marketing terkait dengan daya beli calon konsumen. Tapi ini memang diajarkan di bangku kuliah dan juga dipraktekan kok, jadi buat apa sungkan-sungkan?

Baru-baru ini muncul teman yang tiba-tiba datang karena disuruh bossnya, dan tiba-tiba langsung mau melakukan placement di media massa. Yang ditanyakan sebetulnya sebatas perkiraan posting budget, berapa beriklan di majalah full page dan langsung mau masuk ke design, targetnya akhir bulan langsung tayang, ngabisin budget Q3-Q4 kalih ya? Pokoknya bossnya suruh dia untuk beriklan. Perusahaan sih ada duit dan mau keluar duit, tapi coba melihat kebelakang dulu, apakah langkah placement efektif?

Dari tanya-tanya lebih lanjut ternyata produknya bukan untuk retail, jadi apakah harus placement? Lebih lanjut setelah tanya-tanya lagi, audience kepada siapa harus berbicara pun masih blurry, siapa targetnya? Siapa calon pembelinya? Kepada siapapun belum tahu, boro-boro communication plan, susun kalender dan budgeting. Apa yang sudah dan kemungkinan akan dilakukan kompetitor pun belum tahu …

Waaaah… lebih baik mundur lagi aja dulu. Barang yang mau dijual sudah ada, sudah jadi, tapi kenal konsumennya nggak? Ternyata dia lebih perlu marketing kit dan profile saja karena jualannya model business to business, harus punya amunisi jualan yang representatif, website juga harus *layak*.

Secara umum marketing punya segmentasi berdasarkan demographic profile, istilahnya mungkin menakutkan tapi kalau sudah diceritakan nggak ada yang sulit kok. Segmentasi menurut demografis secara umum memprofilkan calon pembeli berdasarkan:

  • Umur (sensitif?)
  • Penghasilan/strata sosial (sensitif?)
  • Gender

Mini-E-Scooter-03

So harus tahu dulu, misalnya mau jualan motor, calon pemakainya umur berapa sih? penghasilannya berapaan? gendernya apa? Dari sini bisa menentukan cara-cara berkomunikasinya. Contoh: Mau bikin komunikasi untuk motor untuk wanita muda umur SMA – Kuliah. Ya lihat dulu behaviournya, wanita dengan usia tersebut bagaimana? Apakah si wanita muda tersebut membaca Tempo? Bisnis Indonesia? Ya nggak toh? Mungkin lebih pas masuk ke Gadis? Atau lebih mundur lagi, apakah wanita masa kini masih beli majalah? Atau mungkin placement digital saja? Seperti itu. Bagaimana supaya efektif? Budget berapa untuk placement di majalah dan placement di digital?

Kenapa harus ada segmentasi sih? Lha….
Bisa saja model komunikasi carpet bombing, tapi biayanya tentu lebih besar dan bisa jadi nggak kena sasaran juga. Dengan profiling sasaran kita bisa mentarget ke orang yang tepat, seperti menggunakan guided/smart bomb lah. Karena group tertentu punya pola kesamaan. Untuk bisa smart, harus punya inteligence… harus kenal dulu targetnya kan?

Back to motor untuk perempuan, coba coba melakukan survey… Apakah wanita muda masa kini percaya iklan? Atau apakah mereka lebih percaya teman dan keluarga? Kalau begitu, bagaimana membuat temannya bisa dipengaruhi untuk percaya dengan produknya? Duit siapa yang beli motor itu?

Hari ginipun banyak wanita muda yang tidak baca koran, tidak baca majalah, liat TV pun tentu pilihannya lebih banyak. MTV? katanya sudah nggak ok lagi, V channel? Sinetron? Radio?

Ambil napas dulu, kalau jaman dulu banget mungkin banyak produk diciptakan satu untuk semua. Tapi sekarang produk-produk peruntukannya lebih spesifik. Shampoo untuk pria, kadar PH sekian, formula Zinc ++ dari ekstrak tumbuhan langka banget-banget di pegunungan Himalaya yang cuman mekar sekali dalam 100 tahun *contoh*. Ya pembuktiannya siapa tahu sih??? Super spesifik.

Anyway yang tadi baru soal channel komunikasi yang dipakai, belum lagi bicara contentnya. Ketika bicara ke wanita tentu harus khusus. Gimana cara bentuk event jualannya? Kapan waktu terbaik? Design materi komunikasinya?

Marketing pun sudah bergerak dari demographic, karena seringkali karena kebutuhan juga. Contoh, motor di market untuk perempuan, lha malah banyakan laki yang pakai kok? Orang dengan duit sekian yang *harusnya* beli motor itu, lhaaaa, kenyataannya enggak juga? Lha komunikasinya miss target, tapi kok produk bisa laku? Hitung-hitungannya gimana?


Responses

  1. jossss…… study marketing

  2. Biasanya kan pake SES (Socio-Economic Segmentation) bukan SSG lho…:-)

  3. Marketing itu Departemen yg ngabisin duit banyak, dan target cuma knowledge, brain wash,
    Sales itu departemen yg duitnya sedikit, tapi target dah kaya orang gila

    Just my 2cent

    • Enggak sih.
      Sales ya nggak bisa jalan juga kalau marketingnya nggak bagus. Keduanya sama-sama butuh. Ukuran keberhasilan marketing ya juga di kesuksesan penjualan,

      Soal perception lain lagi.

    • sales gak bisa bergerak banyak kalo marketingnya memble dan minim inovasi. dan begitu pula sebaliknya.

      tergantung produknya,… misalnya tadi shampoo. di kemas seperti apa? bentuknya? warna? varian? kemudian segmen pasarnya mana?

      tradisional? atau market(mall)? perhitungan nyewa gondola? lokasi rak nya diatas apa bawah? didepan apa di belakang?

      ama marketing semuanya di hitung, di sample. jika sudah di approved akan di jalankan.

      untuk tradisional, bagaimana sales nya? promo nya? bonus bagi sales nya? posisi pasar? konsumen di sekitar pasar tradisional sekitar? etc…

      itu di hitung. sales nya kalo memble ya percuma. sales nya kalo maju juga kalo marketing memble tetep memble om.

      bini ane orang marketing, ane pernah buat program simulasinya buat target pasar tradisional dan modern market.

      menarik dari sisi logika.
      🙂

      • rupanya ente programer yach.

        pasti jago kalkulus nich

      • tumben komen otaknya jalan … abis download update OS yah:mrgreen:

      • rasain lu kena sindir mbah dukun, dilapak doi lu bahasnya emprit mulu sih

      • @bdt

        bukan om, kata FBH kan ane itu penjaga warnet…😆

        @mbah dukun

        ternyata di marketing pake logika juga. menarik memang dan case nya setiap item, varian ampe warna aja diitung. wkwkwkwk…
        😆

        @tak

        tergantung materinya, kalo menarik ya gitu dah…
        😆

      • Jiaahhhh roy di percaya, sekarang ngemeng a besok ngemeng b. Bilang bisa bikin program mah gampang, gw jg bisa kalo ketik doang,,,,
        Bukti mana bukti,,, hahahahaha

      • bukti mah ada, cuma males nanti situ niru lg.
        😆

  4. ah

    mata kuliah manajemen pemasaran lagi.

  5. parameter yang dipake disini lebih banyak dari mbah dukun, lebih akurat tapi akan lebih rumit implementasinya. (terlalu jlimet buat yg awam marketing)

    opini saja

  6. nah udah dua artikel dan sekarang gw malah keblinger sendiri:mrgreen:

  7. bahas marketing di bangku kuliah ane jadi inget dosen yg gak bisa ngomong apa-apa saat dibantah keras oleh yg diajarnya. maklum si dosen menang teori dari buku doang, sedang yg diajari malah keturunan pengusaha sukses. teorinya jadi mentah wkwkwk

  8. mayan ilmu marketing gratisan.. Bentar malem giliran nunggu lg kuliah dari mbah dukun

  9. ya marketing & sales seperti sepasang kekasih
    saling membutuhkan:mrgreen:
    memang, tugas marketing itu untuk mendesign strategi penjualan produknya, mulai memilih sasaran costumer, dll
    sales ya tugasnya menjual dengan system yg disusun oleh marketing
    naahh…
    susahnya kalo marketing & sales dipegang oleh 1 orang, kayak ane😦
    ribeet booo…..:mrgreen:
    *butuh ilmu lebih di bidang ini, soalnya learning by doing, efek orang teknik nyasar ke dunia pemasaran😛

  10. jos….ngomong-ngomong soal dunia otomotif kayanya segmentasi gender sudah ga berlaku lagi. contoh,matic yg awalnya untuk cewek nyatanya cowok pun ‘wajib’ punya. yg terbaru, di kota saya, xride yg banyak pakai justru cewek abg

  11. Suer… Aku gak nyampe pikirannya…:mrgreen:

    • mumet aku

  12. Oom Arantan kl marketing tu butuh ilmu psikologi juga yah berarti….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: