Oleh: arantan | Juli 25, 2013

Ketika anti mainstream, berarti tidak lagi netral dong?

Saat ini ketika media besar pun digunakan untuk alat promosi diri mungkin jadi aneh kalau blogger berani introspeksi soal netralitas. Boro-boro blogger, bahkan ada pembenaran juga ketika media pun boleh memihak, tidak lagi netral.

Lihat sini.

Ketua Dewan Pers Bagir Manan, Rabu 26 Juni 2013, menyatakan semua insan pers harus menjunjung tinggi prinsip independensi. Namun independensi itu bukan berarti sebuah media tidak boleh bersikap.

“Independen tidak sama dengan netral atau berdiam diri. Independen dalam demokrasi berarti bebas memilih,” kata Bagir di Jakarta. Menurut dia, setiap media berhak memilih kebijakan dalam pemberitaannya.

So jadi media A boleh mewartakan yang baik-baiknya saja tentang group A dan keluarganya *saja*. Masih OK juga jika media tersebut mengekspose segala yang kurang baik tentang group lainnya semuanya dianggap boleh-boleh saja, atas nama ini “sikap” saya. Ya sikap apa? Sikap jahat? atau sikap baik?

Back to context sebagai blogger. Kalau dulu misal saya melihat blogger ini anti Honda, adalah kerennnn! Berarti membawa pembaca ke jalan yang benar!!! Tapi sekarang saya introspeksi juga, lha misalnya saya menjuruskan orang untuk beli motor aneh kemudian trouble terus gimana? Bengkelnya gimana? Resalenya gimana? Ujung-ujungnya tanggung jawab saya sebagai penulis bagaimana? Demi apah? *miapah* Demikian? Padahal misalnya ada produk yang lebih baik dari Honda atau Yamaha.

Sekarang saya melihat baik mainstream brand seperti Honda – Yamaha pun perlu di infokan, porsinya sama juga dengan KTM – Piaggio dan lain-lain. Kalau saya tahu dan memang interest saya pada produk tersebut ya saya wartakan based on my experience ya. Experience saya bisa bagus tapi bisa juga buruk lho.

Kalau dari kode etik AJI ada seperti ini:

Jurnalis mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan keberimbangan dalam peliputan, pemberitaan serta kritik dan komentar.

Mari introspeksi, apakah kita – saya sudah netral? Apakah mau menjadi netral?

Saya masih belajar.


Responses

  1. IMHO, pro-mainstream hampir menyentuh level FB. contoh paling gamblang sepengamatan saya di skutik kelas 125. diakui atau tidak, Vario 125 punya value dan fitur paling bagus dibandingkan produk setara.

  2. saya tidak netral tapi tidak mau jerumusin orang lain jadi tulis apa adanya saja

  3. saya tidak netral, tapi cenderung suka membuat FBH panas, buat saya itu sudah cukup. the hell with ATPM products… as long as FBH Kalap… that would be enough for me…
    🙂

  4. I see, bahkan bersikap adil pun bukan menyamaratakan tetapi menempatkan segala sesuatu sesuai dg tempatnya/kadarnya .
    ngawur.com

  5. independent bukan netral ya? pantesan ada blogger independent yg suka ngulas produk A baik nya saja, ngulas produk B jelek nya saja.

    wWOOooOOWw blogger siluman tapi pakai topeng

  6. Namanya juga blog isinya ya kolom opini, kalau ndak suka isinya gak usah dibaca atau disambangi kalau dianggap gemes bikinlah blog tandingan….

  7. Ini bicara salah satunya mungkin ttg benny the “big bear” ya…hehehe… Anti mainstream..

  8. Kalo saya sih gampang aja. Kalo ada blogger yg mayoritas atau keseluruhan isi artikelnya ngga mutu, ya tinggalin aja, ngga usah disambangin. FYI, udah ada beberapa blogger di Indomotoblog, Koboys, Jatimotoblog maupun OBI yg udah saya blacklist. Blacklist disini artinya saya udah sama sekali ngga pernah (mau/berniat) mampir ke blog2 yg diasuh blogger2 tersebut. Jangankan mampir, liat daftar judul artikelnya aja saya udah ngerasa jijik….

    • Kalo mau adem, baca deh blog macam Shootupnride, SRT, Soul94rage dkk🙂

      • Dulu saya pengunjung setia blog SRT. Setiap ada artikel baru, pasti saya baca, ngga ada yg terlewat satu artikel pun. Sayang, sekarang udah ngga tercantum lagi di agregator Indomotoblog, jadi susah buat nge-track nya. Maklum, sampe sekarang saya masih sangat bergantung dengan jasa agregator blog. Mau nge-bookmark atau RSS feed males. Soalnya blog idealis kaya gini jarang2 ngeluarin artikel. Capek kan ngecek RSS feed satu2 tiap hari tapi belum tentu ada artikel yg dipublish😀

      • buat Gravatar, tinggal follow dah😀

  9. Malah media tidak pernah netral om, pasti memiliki keberpihakan. Nah pertanyaannya, berpihak pada kebenaran atau kesalahan?

    Kenapa tidak pernah netral? Contohnya gini, media CBD memberitakan produk pabrikan X cacat produksi, sehingga menyebabkan penjualan pabrikan X menurun, sedangkan siangannya pabrikan Z penjualannya meningkat. Lalu, pada kasus ini, apakah CBD bisa dikatakan neyral? Tentu tidak, lha wong jelas ada pihak yg diuntungkan dan dirugikan. Nah, yg seharusnya disorot adalah, benar atau tidak produk X yg diberitakan cacat produksi? Kalau benar, ya artinya CBD menjunjung kebenaran dan independen, tapi kalau ternyata tidak benar dan merupakan berita pesanan, ini yang salah dan tidak independen.

  10. Jujur aja… Kalo memang bagus, katakan bagus. Jelek, katakan jelek. Simple!

  11. ketika independensi dipertanyakan😀

    http://awansanblog.wordpress.com/2013/07/27/motor-klasik-bmw-r-series-1950-1960/

  12. Mbaca ja aaaah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: