Oleh: arantan | Juli 17, 2013

“Negative Promotion”, ketika menghujat jadi bentuk promosi

business man - bankrupt

Yang umum dikenal di komunikasi tentu adalah positive communication. Bentuknya misalnya memuji-muji produk atau brandnya: Contoh statement adalah “Kecap nomor 1!” atau apalah “Kecapnya pas” dan lain-lain. Promosinya dalam bentuk placement berbayar dan langsung keluar secara resmi dari brand.

Promotion negative sebaliknya muncul dalam bentuk gerilya dan tidak dari brand. Komunikasi ini bisa di trigger dari key opinion leader, contoh keluar ada entah artis-celeb/ artis dunia maya, yang bilang “Kedelainya palsu!!!” Si artis tersebut bisa dibayar oleh brand.

Lho ada juga yang dibayar untuk menghujat brand? Tujuannya?

Negative promotion … sells faster! Rangenya juga jauh menyebar lebih cepat! Lha tapi kan negative?!!! Nanti orang pada nggak mau beli???? Ya iya, kalau communicationnya tidak di manage, tapi ini kan sudah ada skenarionya, sudah ada play booknya.

Si brand bisa lagi mengkondisikan/membayar KOL lainnya lagi untuk counter issue. Contoh ada artis lainnya lagi aka “white knight” yang mengcounter issue, “Kedelainya ASELI KOOOKKK!!! enak banget kecapnya!!! Kakek-nenek-orangtua saya pakai,  bertahun-tahun anaknya jadi pinter, cantik dan seterusnya”. Kemudian muncul lagi peneliti yang bisa memberikan jawaban secara terukur, kedelai ternyata asli, berasal dari kebun eksklusif, kedelai pilihan bla-bla-bla…

Media yang menggrab issue negative punya kewajiban juga untuk melempar jawaban. News value langsung tinggi bro! Ya bisa juga medianya memang ikut dalam skenario.

Ujungnya apa? Ya kecapnya malah jadi nge hits lah!!!

Lho KOL tersebut kok mau-maunya dibayar untuk katakanlah berbohong? Apa nggak rusak namanya? Ya nggak juga, bisa jadi memang KOL yang pertama mentrigger negative communication tersebut adalah memang KOL yang sudah tidak simpatik alias tidak dipercaya namanya. Apapun yang keluar dari KOL tersebut malah jadi positive dan menimbulkan simpati masyarakat.

Sedangkan kelompok KOL berikutnya yang mengcounter adalah kelompok “White Knight” yang serba benar dan bersih…

Ini termasuk kotor atau kreatifkah dunia komunikasi? Its just business as usual. Sekarang di era marketing 3.0, memang brand tidak lagi punya pengaruh full kepada arus komunikasi, tapi arusnya masih bisa di atur, di manage …


Responses

  1. aka BC:mrgreen:

  2. Sandiwara

    • fragmen

  3. istilah klasiknya ‘argumentum ad hominem’

  4. Pelaku “Negative Promotion” banyak banget tuh bertebaran di blog-blog otomotif R2. Pura-pura ngebela, padahal…. Pura-pura ngehujat padahal….:mrgreen:

  5. ahh iritnya cuma beda satu sendok teh koq.. ini termasuk yg mana yaa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: