Oleh: arantan | Juni 20, 2013

Yang diharapkan pabrikan setelah test drive… ya beli kendaraannya dwuonk!

Test drive Golf TSI, telepon saja.

Kalau mau test drive sebuah mobil, sebetulnya gampang saja. Tinggal angkat telepon, suruh salesnya datang ke rumah bilang mau test drive bla-bla-bla, maka Anda akan di schedule untuk test drive. *umumnya begitu*.

Ini sudah pernah saya lakukan waktu mencoba Honda Brio dari Honda Mugen. Waktu itu saya datang bersama anak sebetulnya mau melihat-lihat unit mobil yang akan disiapkan untuk dikirim. Tapi oleh sales saya ditawarkan untuk mencoba si Brio. Waktu itu salesnya tidak pakai nanya-nanya lagi, apakah saya bisa mengendarai matic? Bahkan saya pun tidak ditanyakan apakah saya punya SIM A? Isi form apapun juga tidak, langsung kasih kunci🙂. Ya karena si sales tahu, mobil yang saya mau ambil pun matic dan kalau saya mau ambil tinggal ngomong ke salesnya kok. Saya dianggap potential customer, si brio sebagai mobil tambahan, waktu itupun saya di minta untuk sekalian mencoba CRV… tapi saya tolak lah, buset. BTW, brio ok, untuk berdua, tenaganya OK, lincah, tapi memang ruang belakangnya sempit.

Anyway… bagi brand, kalau sampai memberikan kesempatan untuk test drive, harapannya si orang tersebut adalah potential customer yang akan beli. Ya iya dwuonk, ini bukan mobil koin odong-odong yang bisa dicoba semata untuk excitement dan hiburan bagi penyewanya.

So tujuan utama bagi brand mengadakan test drive sebetulnya pure sales. Sales dari test drive juga harusnya bisa tinggi seperti yang diadakan groupnya Piaggio waktu di parjo… konon salesnya selama 2 hari itu tinggi banget!

Tujuan sampingan test drive… brand activation. Test driver dianggap sebagai buzzer. Alias walau si brand pun juga tahu si test driver tidak akan beli tapi bisa dipergunakan sebagai corong. Nah, bagi buzzer atau key opinion leader ini dianggap bisa menyiarkan dan mempengaruhi kelompoknya atas experiencenya ini. Kalau si buzzer rame di twitter ya semoga dia bisa menyiarkan lewat twitter pribadinya, kalau di FB ya semoga bisa lewat facebooknya, blognya. Atau kalaupun tidak aktif di social media, bisa saja si orang ini secara tatap muka langsung dianggap punya pengaruh pada kelompoknya.

Noted: bukan “dipergunakan” satu arah ya, tapi saling mempergunakan, sama-sama happy, why not toh?

Nah, sekarang gini… problemnya memang siapakah si buzzer pembawa pesan tersebut? Bagi brandpun ditantang untuk mengklasifikasi siapa buzzer yang tepat. Gimana kalau saya tiba-tiba ngomong motor sebangsa Yamaha M1? Siapa saya? Ya sehari-hari saya pakai matic kok?!🙂 Setelah itu teman-teman/circle saya siapa? Ya teman-teman saya pun kebanyakan pakainya matic juga kok!🙂.

Ini bukan menunjuk pada kejadian di Jogja yak…

Tapi pas nulis ini saya jadi ingat ketika dulu masih di perusahaan sebelumnya, waktu itu mau mengundang teman-teman key opinion leader. Ya key opion leader (KOL)nya di cari yang pas dengan barang/messagenya, posisi produknya, sebaran teman-temannya. Ya kalau undang 100 orang tapi asalnya dari satu RT, dengan 10 orang tapi dari nasional tentu beda sebarannya. Ya misalnya kalo ngundang untuk launching handphone sejutaan, yang diundang ya jangan orang A+ lah.

Wah maap jadi kepanjangan neh… saya sudahi sampai disini saja.

So, tujuan utama test drive diperuntukan untuk calon pembeli, second choice *buzzer/key opinion leader*, setuju?


Responses

  1. temen ane dua kali test drive SUV jepang.. malah sales-nya yang “diceramahin”.. gara2 unit test-nya “gak bener” en “seadanya”…

    karena kecewa akhirnya pilihan jatuh ke SUV Amrik.. pas ane ngikut “boncengan”… wuihhh emang gak salah pilihannya… nyamannn abisss.. senyaman boil mercy temen ane itu…!!!

  2. selain dijamu test drive hrsny jg sisales pro aktif njelasin semua hal ttg si unit, plus minusnya.. jd smacam ad sharing info plus pembuktian dr teoritis ke lapangan.

  3. nyimax😀

  4. karena persis seperti yang pak Arantan sampaikan di sini, sekadar masuk-masuk ke dalam kabinnya pun saya enggan, emang gak niat beli sih:mrgreen:

    • Kalau sekedar masuk-masuk aja sih ayuk aja brrrooo…

      Anak gw aja juga suka nyuruh gw ngambilin brosur😀 si anak mau pelajari di rumah, dari game.

      Beli sih nggak🙂

  5. Itu kan R4….kenapa kalau R2 test drivenya malah jarang dan gak ada….paling2 dikasih kalau ada acara seperti PRJ atau pameran motor? Jangan2 sama pabrikannya sendiri konsumen R2 memang dianggap konsumen kelas 2….

    • Kalau Ducati ada. Telepon, janjian sama sales di satu tempat bawa brosur🙂
      Nggak tahu apakah ada test drive atau nggak ya.

  6. Kalau tidak salah tvs bisa daftar test ride-nya via website resmi, cmiiw. Salesnya harus pintar memilah potential buyer dan buzzer, paham tapi mungkin sulit ya?

  7. Habis test drive biasanya ada serangan bertubi2 dari sales….

    • Baru liat ada ngtes golf tsi… cobain gti om baru racun tuh..wkwkwk

  8. itu salah satu alasan selain alasan pada artikel sebelumnya sehingga saya urungkan niat hr minggu test ducati mas…..

    niat beli tidak, rekan kenalan sepertinya juga bukan potential buyer ducati, plus takut jatuh……. :-p


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: