Oleh: arantan | Juni 12, 2013

Lebih baik coexistance, ada pesta rakyat dan ada PRJ

Foto dari Kompas sini, ini waktu launching Piaggio di Indonesia.

Saya kurang tahu kebenarannya, tapi konon Pak Jokowi – Ahok merasa kalau PRJ saat ini bergeser dari peruntukkannya sebagai  panggung untuk “rakyat”. Saat ini menurut beliau lebih tepat disebut sebagai area bisnis semata. Kalau saya baca sebelumnya memang sebelumnya sudah ada dispute antara pemerintah daerah dengan pengelola PRJ yang mengharuskan bayar sewa, deviden dan lain-lain… Mungkin pemerintah daerah merasa ownershipnya PRJ sudah bukan milik pemerintah lagi …

Saya sendiri pun tahun lalu sempat mencari kerak telor di PRJ titipan isteri ternyata memang nggak ketemu. Baru waktu mau keluar PRJ, banyak pedagang di pinggir jalan. Begitu saya pinggirkan motor, berapa lama kemudian ada security yang menyodorkan karcis. Seingat saya tahun lalu pun parkir motor pinggir jalan dikenakan 8.000, harga kerak telornya pun sudah mahal.

So saya setuju juga jika ada niat untuk mengembalikan PRJ sebagai pesta rakyat, termasuk pesta makanan – kebudayaan se Indonesia dengan harga affordable.

Tapi …

Ini booth minerva PRJ. Yang foto… ya namanya rakyat juga toh?

Kalau kita lihat PRJ dengan segala kekurangannya saat ini, dengan harga karcis masuk yang makin lama makin mahal, dengan minim toilet, dengan sesaknya booth motor-motor pun makin tinggi peminatnya! Lha coba saja parkir mobil atau motor, pasti mesti strategi dulu, dekat pintu keluar kek, masuk lebih awal kek, parkir di pusat onderdil, dan lain-lain. Pengunjungnya PRJ saat ini pun tentu juga namanya rakyat toh? Jadi kalau kata-kata saya gabungkan banyak rakyat Jakarta ke PRJ, lha ya artinya PRJ saat ini pun masih setia dengan namanya “pesta rakyat” toh? Mungkin bentuk rakyatnya Jakarta yang saat ini punya interest berbeda dengan peruntukannya….

Banyak pula pengejar diskonan motor, pengejar motor baru yang khusus hadir ke PRJ.

So? Menurut saya sih ini perang kepentingan antara kerak telor dengan pengusaha kecil yang datang dari luar Jakarta (*saya baca pedagangnya toh juga ternyata adalah petani dari Garut). 2-2nya sangat ddiperlukan. Ya para brand motor juga perlu diberikan panggung juga lah, rakyat pun kenyataannya juga butuh kok. Lha launching motor dan closing sales pun terbukti banyak dilakukan di PRJ kan?

2-2nya sih perlu di akomodasi! Bukan “Pesta Rakyat Baru” menghilangkan “Pesta Rakyat Lama”. Atau ya mau dibikin dua event terpisah? Saat HUT Jakarta baiknya pesta rakyat, dan setelah itu ada PRJ seperti yang sekarang?

Maybe …


Responses

  1. lebih baik begitu, Pesta rakyat dan kebudayaan dipisahkan dengan pameran bisnis dan industri. Yang pertama mungkin merugi sedikit tidak apa2

  2. apapun namanya..asal pengunjung jangan merasa “disiksa dan terjebak” saat datang ke lokasi..

    mulai dari disiksa antrian beli tiket yang panjang..HTM-nya nyekek leher.. sampe didalem “kejebak”..karena gak bisa ngapa2in.. beser aja susah.. belom lagi trik2 pdg yang rada2 licik dalam menawarkan harga…
    begitu keluar area..dipalak parkiran liar en penjaja barang2 yang “maen tembak harga”

    POKOK’E…ANE OGAH DATENG KE PRJ…. KUAAAPPPOOKKKK…!!!

  3. Tapi yang menjadi daya tarik bagi saya sendiri untuk hadir di PRJ selama ini adalah untuk melihat produk motor baru selain berburu diskon tentunya serta muter-muter tiap hall cari peralatan rumah tangga. Pernah masuk ke hall kebudayaan…isinya relatif sepi oleh pengunjung😀.

  4. Sip,mantap

  5. dulu di malang ada “festival malang tempo dulu”, isinya stand2 kuliner, kerajinan, suvenir, n macam2 UKM lainnya. n setelahnya ada “malang expo”, isinya stand2 kendaraan, furnitur, perumahan, n perusahaan lainnya. mungkin di jakarta bisa ngadopsi model seperti itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: