Oleh: arantan | Mei 24, 2013

Telkomsel, digital advertising relaunch

arantan-IMG_8527  arantan-IMG_8538

Hari Rabu, 22 Mei 2013 saya menghadiri acara dari Telkomsel, Digital Advertising Relaunch: Beyond Mobile.

Background relaunch ini ada dua hal, yang pertama industri operator sejak tahun lalu mengalami kekeringan drastis. Marketnya sudah jenuh yang ditandai dengan jumlah pemegang kartu selular yang hampir menyamai jumlah penduduk Indonesia, serta juga penambahan subscriber baru yang tidak sepesat sekitar tahun 2008-an. Sehingga bagi operator dituntut untuk mengembangkan bisnis ke sektor lain. Ya dengan cara seperti ini, value added services, merger, akusisi dan lain-lain.

Kedua adalah dengan jumlah pemegang kartu selular yang bisa dikatakan menyamai populasi Indonesia, channel tersebut sangat potensial untuk dimanfaatkan para pemegang brand sebagai sarana promosi dan marketing.

Acara yang dilangsungkan malam hari di Foundry 8 SCBD diperuntukkan bagi pemegang brand, jadi sifatnya penawaran terbatas bagi calon klien, business to business. Jadi yang diundang ya para klien dan calon kliennya Telkomsel.

arantan-IMG_8529

arantan-IMG_8549

Sampai di atas ada beberapa gerai showcase jualannya Telkomsel, yang saya ingat ada show case Pop Mie, disini Telkomsel bekerja sama dengan operator lainnya yaitu XL dan Indosat. Modelnya sistem kupon berhadiah, tapi ini di digitalkanlah, kalau dulu mungkin peserta diharuskan mengirimkan potongan sachet/kemasan lewat pos, sekarang cukup kode saja. Di dalam setiap pop mie ada kupon dengan unique ID yang bisa diinput melalui SMS. Ya dengan kode-kodelah.

Selain itu ada T-cash, dimana saldo handphone bisa digunakan untuk bertransaksi seperti pembayaran listrik, belanja di indomaret/alfa dan lain sebagainya. Saldo T-cash terpisah dari saldo pulsa tapi dapat digunakan untuk membeli pulsa. Tapi tidak berlaku sebaliknya, saldo pulsa tidak dapat di pindahkan ke saldo T-cash. Lebih lanjut dengan registrasi ke graphari, bisa menaikkan saldo maksimum dari 1 juta ke 5 juta. Setelah registrasi pengguna t-cash bisa transfer t-cashnya ke pengguna t-cash lainnya.

Ke-dua hal ini bukan sesuatu yang baru, dan itupun bukan adversiting tapi services. The rest… juga ada, e-book download, portal buku dan majalah di iPhone, sharing foto ini itu, saya sudah pernah lihat sebelumnya.

Produk turunan digital advertising sendiri sangat banyak dan semua bisa di custom sesuai keperluan brand. Saya coba share beberapa:

Overlay halaman situs

Para operator punya kemampuan untuk mengoverlay sebuah situs. Taruhlah kita masuk ke detik.com dengan menggunakan jaringan telkomsel. Bisa saja di pasang halaman tunggu, sebesar full page yang berisi promo brand. Bagi pengguna memang mengganggu, tapi bisa saja tarif menuju halaman tersebut di gratiskan.

arantan-IMG_8546

LBS SMS

Mungkin sadar juga kalau begitu masuk ke mal, kita sering terima SMS promo. Nikmati potongan sekian persen untuk pembelian ini itu, atau diskon sekian untuk item kedua. SMSnya kadang bisa masuk 2-3 biji. Bagi pengguna terima SMS ini gratis, tapi bagi brandnya bayar lho. Isi SMS biasa berupa promo untuk aktivasi orang menggratiskan barang kecil supaya mendapatkan lebih besar. Contoh: Dapatkan discount 50% 1 kopi ukurang small di J Co. Ya ngopi apakah sendiri? Setelah ngopi apalagi? mungkin beli kuenya. Mungkin someday kopinya gratis, gula nya mbayar seharga kopinya.

Tentang LBS – Location Based Service. Begitu si tower, repeater, BTS, tahu ada orang yang berada di coveragenya katakanlah masuk ke mal, maka orang tersebut di kirimkan SMS. Gimana operator bisa membedakan antara, penjual dan pembeli, interest? Bisa saja kalau teknologinya makin canggih. Misal… sebut saja namanya Bunga, diketahui sering berada di Bakmi Gajah Mada…. apakah pas kalau diberikan promo resto lain pada jam makan siang?

Profiling

Para pemasang iklan umumnya dikenakan biaya per-SMS. Contoh, per SMS sekian ratus rupiah, kalau mau disebarkan ke 1.000 orang ya tinggal kalikan saja dengan harga per-SMS. Pertanyaannya bagaimana memastikan 1.000 orang tersebut adalah sesuai target? Bagi para pemegang brand bisa saja mereka tahu pembeli existing mereka, kalau mobil atau motor para pembelinya sering menerima reminder jadwal service databasenya sudah ada. Tapi bagaimana kalau orangnya belum punya tapi ingin di conversion ke pembelian?

Nah ini pinter-pinteran para operator untuk melakukan profiling yang tepat sasaran, ujungnya ya conversion rate bagi para pemegang brand.

arantan-IMG_8543


Responses

  1. Pantesan kok saya kayak lihat om di Foundry 8 Rabu lalu. Ternyata beneran hadir toh, hehe.. Mengenai LBA (Location-Based Advertising), pernah ada management sebuah mall ternama di Jakarta yang complaint keras ke Operator penyedia layanan LBA, karena mereka setiap pagi datang ke kantor menerima SMS promosi LBA dari operator tersebut.

    Meskipun secara profiling sudah sesuai target (usia, gender, dsb), mungkin perlu dilihat historical data sebuah MSISDN di lokasi tersebut. Apakah selalu masuk dan keluar di jam yang sama. Kalau iya, berarti pegawai mall, hehe..

    • Pastinya harus lihat historynya, waduh.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: