Oleh: arantan | Maret 30, 2013

Setelah wacana ganjil genap kita masuk wacana ERP

Digital ERP di Singapore, mesin penghisap duit di Singapore. Disana ERP bisa di set dengan tarif berbeda-beda perjam, di jam super sibuk, sibuk dan normal. Ada infonya di layar digital.

Apa action nyata di lapangan untuk ganjil genap sampai hari ini? NOTHING…

Paling press conference dengan memperlihatkan model sticker *saja. Dan akhirnya sampai saat ini cuman ngomong-ngomong doang. Akhirnya saat ini saya percaya juga kalau memang dari awalnya ganjil genap tidak pernah direncanakan untuk betul-betul dijalankan. Untuk ini saya pernah tulis 2 kali di sini dan di sini.

Untuk aturan ganjil-genapnya sendiri dari awalnya tidak pernah setuju dengan ganjil genap, tapi Pak Jokowi sepertinya sudah mantap, coba dulu! Baiklah, siap! Ayuk deh!

Sekarang kalau arahan tentang pembahasan lalu lintas Jakarta sudah tidak di bahas lagi soal ganjil – genap, yang dibahas ERP saja. Ganjil genap seolah dilupakan. Persis seperti cara komunikasi kalau masa program suatu produk sudah habis masa promonya/berlakuknya. Jarang di sebutkan suatu program discontinue, tapi dilupakan saja dengan tidak dikomunikasikan lagi. Yang ada produk barunya dibuat komunikasi plan baru.

Seperti di beritakan di detik sini.
Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dengan pimpinan DPRD membahas transportasi di Ibu Kota. Jokowi membahas kesiapan penerapan sistem nomor polisi ganjil genap juga menyinggung penerapan jalan berbayar elektronik atau eletronic road pricing (ERP).

“Soal transportasi, beliau (Jokowi) jelasin bagaimana 3 in 1 tidak efektif. Lalu sasaran antara 3 in 1 ke ERP,” tutur Wagub Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang ikut dalam pertemuan di Gedung DPRD DKI, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (26/3/2013).

Melihat cara launching program korporasi ya mirip seperti sekarang lah, ganjil genap tidak lagi dibicarakan, muncul wacana baru. Kalau program luncuran koporasi masih mending karena programnya betul-betul meluncur. ini wacana saja yang dibarukan, dari wacana ke wacana lagi.

Biar keliatan kerja.

Sekarang saya butuh masukkan, kira-kira bagaimana mengenali produk regulasi yang mungkin diluncurkan dan yang mana yang cuman wacana saja. Kalau seperti sticker yang membutuhkan dana besar sementara tidak ada pemasukkan ke kas negara, saya anggap kemungkinan berhasilnya tipis.

mandiri-etoll

 

ERP waterproof untuk roda dua yang saya foto di Singapore

Kemungkinan ERP bisa diwujudkan saya lihat sama tipisnya dengan ganjil-genap. Karena ini akan melibatkan sampai masing-masing pemilik mobil dan motor dengan pembelian alat elektronik di tiap mobil. Alatnya sendiri tidak murah, tebakan saya bisa sampai 500 ribuan perkendaraan. Seperti Alat Mandiri e-toll gate yang 660 ribuan. Ini baru alat yang untuk mobil dengan indoor, kalau untuk dipasang di motor? Tentunya harus model yang waterproof, alias untuk motor bakal jadi lebih mahal, harga satu jutaan permotor? Pertanyaannya mau duit darimana/siapa? Subsidi? Atau seluruhnya mau dibebankan ke para pemilik kendaraan? Waduh, resistansinya bakal besar. Belum lagi beban pemerintah untuk membangun ERP gatenya, mau berapa banyak e-toll gatenya? Saya sempat menscan, di tahun 2010 saja kebutuhan dana untuk ERP diperkirakan 500 em. Itu tahun 2010 dan itu baru prediksi budget. Riilnya berapa kalau di 2013 ini? Mungkin ya bisa 1 t.

Belum lagi bagi pengguna kendaraan yang asalnya bukan dari Jakarta yang masuk ke Jakarta kan. Kalau yang dari luar Jakarta setiap hari di Jakarta ya no problem beli alatnya. Tapi kalau cuman tempo-tempo saja? Apa perlu beli alatnya 660 ribuan? Kalau tidak, apakah buat seperti gerbang tol? Kebayang nggak antriannya gimana?

Memang kalau jadi ERP pasti manfaatnya besar, kalau jadi mungkin 3-4 tahun ya balik modal? Tapi bagi pemilik kendaraan pribadi ini sangat memberatkan.

BTW saat ini hampir habis musim hujan (*musim banjir) sekarang langkah-langkah pencegahannya secara nyata apa? Katanya mau bikin ini itu? Baru berapa bulan sudah lupa.

Biaya road pricing 500 em, biaya sticker yang nggak jadi? Cuman belasan milliar.


Responses

  1. perlu keterpaduan
    ganjil genap katanya nunggu bis / angkutan umum lengkap dulu

    membangun infrastruktur memang perlu biaya besar, tapi kalo manfaatnya bisa langsung dirasakan bersama. . .why not ?

  2. kalo menurut mas arantan enaknya gimana?

  3. cabut subsidi BBM. selesaikan tol lingkar luar. jaga jalur busway dgn regu tembak, mo semacet apapun kendaraan pribadi dilarang masuk jalur busway, yg nekad masuk tilang Rp 500rb pke kwitansi ditempat.

  4. Mass rapid transit dulu, monorail dulu, busway ditambah lagi armadanya, sudah jangan neko-neko. Jalan tol yg berbayar saja masih macet.

  5. Monorail aja dibanyakin… Masa kalah sama TMII?

  6. Saya mau ERP, mau ganjil-genap, mau 3in1, udah siap….yg gak siap pemerintahnya….sebenarnya mau bikin aturan apa enggak? Maju-mundur mulu….kalau saya disuruh usul batasi aja hari penggunaan R4 misalnya cuma selasa, dan kamis….sisanya kendaraan umum atau R2. Nah dijamin gak macet…..:-D

  7. Itulah indonesia, cepat melupakan suatu hal, dan terlalu cepat gembar-gembor di depan, melempem di belakang. Lagipula penerapan ERP kalo tidak dipantau serius, bisa jadi lahan korup baru lagi. Sistem ganjil genap dgn stiker sptnya juga susa pengawasannya. Any idea?😀

  8. Yang sudahada saja dulu dibenahi hingga maksimal, seperti KRL & Busway (sterilisasi).
    Dua ini saja dulu …… fokus, fokus, fokus …..

  9. Semua kan usulan, ada publik hearing, kl mayoritas nggak setuju dan infrastruktur belum mendukung ya bgmn?, bukan cuma keliatan kerja. Dicari solusi terbaik menyelesaikan macet dki, utk ini diperlukan masukan dr warga yg peduli dki, bukan hanya bs nyela doank.

  10. menurut saya semua perlu dipertimbangkan secara matan untung ruginya dulu,di sini pemprov dki emang berhati-hati.kalo ngasih peraturan seenaknya tau-tau diberlakukan apa nggak kita sendiri yg teriak-teriak???
    nyatanya tentan ganjil-genap masih banyak keluhan-keluhan dan dampak negatif kalo diberlakukan,untuk itu perlu lebih dipertimbangkan.
    dulu di solo soal pemindahan pkl di pasar legi juga butuh waktu,hasilnya?sangat bagus dan tidak ada pedagang yg mencak-mencak.
    segala sesuatu jika ingin hasil yg baik tentunya perlu banyak pertimbangan sebelum eksekusi.termasuk transportasi masal dan penanggulangan banjir tentunya. dan juga karena terlanjur akutnya masalah di jakarta

  11. Kalo bisa memberikan kritik, harus bisa juga memberikan solusi… Jangan bisanya cuman nyela doang…

    • Sebetulnya ada sih, tapi mau di share juga apa gunanya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: