Oleh: arantan | November 21, 2012

Lebih berbahaya mudik atau harian? Statistik says ….

Kecelakaan si pemotor nabrak truk yang berhenti di Pantura. Foto ini saya jepret waktu pulang XL Net Rally 2011 dekat jalur Pantura.

Angka tepat ini menjadi penting untuk menurunkan angka kecelakaan. Sebetulnya focus pencegahan kecelakaan dimana dan saat apa?

Saat mudik konon angkanya begini:

http://nasional.kompas.com/read/2012/08/22/16393010/Kecelakaan.Mudik..638.Orang.Meninggal.dan.Kerugian.Rp.7.5.Miliar

Sejak H-8 atau Sabtu (11/8/2012) hingga H+1 (21/8/2012), jumlah kecelakaan lalu lintas di seluruh Indonesia mencapai 3.600 kasus. Total kerugian materiil dari jumlah kecelakaan tersebut sekitar Rp 7,5 miliar.

638 orang untuk 10 hari, jadi pukul rata, 64 orang perhari.

Kalau harian normal untuk 2011 adalah sebagai berikut:

http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2012/02/14/54751/2011,-30-Ribu-Orang-Tewas-Karena-Kecelakaan-Lalu-Lintas-

30.629 untuk 365 hari.

OK, kalau angka dari lebaran dikeluarkan jadi kurang lebih:

30.000 untuk 355 hari

Dapat 84 orang perhari.

84 perhari vs 64 per hari, so kesimpulannya angka kecelakaan harian di luar masa mudik justru lebih tinggi, betul?

Betul, in numbers, tapi gimana presentasenya? Gimana perbandingannya dengan jumlah kendaraan yang dipakai saat mudik? Nggak bisa dihitung, karena datanya tidak tersedia, diasumsikan pun nggak bisa, pendekatannya dari mana juga?

Kita nggak tahu berapa total kendaraan yang keluar saat musim mudik. juga pada saat hari umum.

Yang jelas memang selama libur mudik, motor – mobil banyak juga yang cuman travel jarak pendek, di kota atau ke mal terdekat saja karena staff rumah tangga ikut mudik. Saya sendiri selama libur lebaran, motor pasti semingguan di garasi, ya nggak bakal celaka naik motor, bukan karena lebih aman tapi karena memang motor nggak keluar, saya lebih banyak di rumah saja. Aktifitas kendaraan pulang pergi ke sekolah, ke kantor pun jadi hilang, digantikan cuman jadi bepergian panjang mudik dan pulang, serta travel pendek di dalam kota. Ya silaturahmi di rumah nenek, kakek, mertua, lebih banyak di rumah kan? Rush hour pulang pergi pun sebetulnya nggak ada, barang bawaan juga pasti beda… dan lain-lain.

Juga kita nggak tahu angka kecelakaan normal 84 orang perhari, itu termasuk yang bepergian jarak jauh juga kah? Berapa banyak? Kita juga nggak tahu sebetulnya angka 64 orang perhari apakah mereka dipastikan pemudik atau datanya bercampur dengan kecelakaan dalam kota akibat malam takbiran *misalnya. Kita cuman tahu data gross, total sekian selama berapa hari selesai, posisinya dimana kita juga nggak tahu. Ya kalau terjadi kecelakaan selama libur lebaran tapi posisi kecelakaannya di Bali, masuk datanya ke liburan atau mudik? Sekarang… semuanya ditotal saja.

Jadi gimana mau bertindak kalau datanya nggak ada? Saya usul model carpet bombing, hajar 2-2nya, fokus pencegahan ke jarak jauh dan jarak dekat. Nggak bisa pakai precission guided missile selama belum ada data dan research.

Sekarang balik lagi aja ke pemikiran awal. Soal 2 jam berkendara kemudian istirahat setuju kan? Ya ya ya….

OK bedanya tinggal mau dipaksa” untuk istirahat dengan peraturan dan enforced, atau beristirahat “sukarela”?

Kembali lagi apa orang kita bisa ya di buat “sukarela”?


Responses

  1. Sekarang si pemerintah mau buat dan bersusah payah keluar effort untuk sistem pembatasan ini, tujuannya tentu untuk kita dan teman-teman kita juga…

    Kenapa nggak di support ya?

    Soal “mendingan” transportasi publik, kegagalan ini itu dan lain-lain, ya kita minta juga ajah. Saya sendiri nggak yakin kalaupun ada transportasi pubilk yang cukup baik bisa hilang pemudik bermotor

    • Saya juga ngga yakin. Soalnya orang milih mudik naek motor bukan semata2 tujuannya untuk menghemat biaya aja. Tapi ada juga yang emang udah hobi naek motor jalan jauh (touring), atau untuk mobilitas selama di kampung halaman (nyambangin sanak family dan teman2), atau juga buat pamer di kampung (kalo kebetulan motornya bagus). Tapi tetep, meskipun begitu, kita musti nuntut perbaikan transportasi massal

      • Setuju!🙂

      • saya nuntut infrastruktur jalan beres semua entah dalkot atau lukot, gak lucu celaka gara2 masuk lubang yg gak keliatan di malam hari atau ketutup genangan air di saat hujan.

  2. saya sudah sejak lama solo riding jakarta cilacap,setiap 200 km atau 2 jam wajib istirahat.hasilnya, konsentrasi tetap terjaga dan badan tidak terlalu capek, dan tidak mudah jenuh.
    perlengkapan wajb,mantel toolkit,sepatu boot.

    • Mantab gan, setuju, bener juga soal 2 jam” nya itu bukan 200 km. Anyway bagi yang sudah menerapkan 2 jam istirahat harusnya juga tidak problem kalau ada aturan ini, ya memang sudah melakukannya juga kan?

    • Kenceng juga 200km bisa 2 jam. Aku paling dapat 100km. Soalnya kan ada macet, ada orang nyebrang, ada tikungan, ada kecepatan maksimal di dalam dan luar kota. Jadi, walaupun di speedo kecepatannya dibuat 80kpj, prakteknya dlm sejam paling dapat 50km.

  3. kalau menurutku lebih baik sukarela saja. polri hanya diberikan fasilitas untuk istirahat yg layak sehingga rider yg merasa lelah bisa istirahat dengan aman dan nyaman.

  4. kalo ane lagi turing malang-jakarta, biasanya 2 jam-an berenti atau tiap 100km. Kalo 200km buat motor tuh kira2 4 jam, karena gak bisa lewat tol.
    Baiknya polisi mengamankan tikungan, jalur khusus motor dan mengatur agar tidak terlalu banyak daerah macet (biar rider nggak terlalu cape).

  5. dibatasi di ukuran tangki, jadi isinya cukup 2jam riding. kalau motor cons bb 40kmpl, rata rata umum kec 60km/jam, jadi tangkinya max 3 ltr….. tapi kayaknya gak masuk akal ya.

  6. Seharusnya Polisi jujur, kalau memang uang sakunya kurang, ngomong saja. Nggak usah bikin aturan yg nggak jelas tujuan dan pelaksanaanya hanya sbg tameng utk mengumpulkan penghasilan dari masyarakat.

    Coba bgmn prakteknya membatasi jarak tempuh. Pakai sim/plat nomer? Gimana kalau motor itu pinjaman dari ortu utk kuliah. Gimana kalau jarak yg jauh itu ditempuh setelah istirahat atau menginap. Pakai pembatasan bbm? Membatasi premium utk plat merah saja belum bisa.

    • setuju!!!!!!

  7. TApi seperti biasa…
    Gimana menjaga peraturan / himbauan, bagaimana pengawasannya ??
    apa akan ada punishment ??
    Lha peraturan yang wajibjibjib semisal pakai helem, jalan di jalurnya, batas maksimal beban sering kali dibiarkan sama sang penegak hukum..

    Jangan sampai cuma mempertebal buku-buku peraturan lalu lintas di Indonesia doang.

    Kalo masalah turing pakai motor, terakhir 12 tahun yang lalu… hahaha
    sekarang dah gak… dah gak tertarik lagi

  8. bener bgt, kecelakan justru seringnya terjadi tak jauh dr rmh.. meski kecelkaan bs terjadi kapn pun, dimanapn..

    klo SIM diperketat, org2 yg layak berkendara adlh yg pnya kesadaran tinggi thp keselamatan dirinya n orang lain.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: