Oleh: arantan | Agustus 26, 2012

Problem klasik waktu mudik, pasar tumpah yang bikin macet

BANGKALAN, KOMPAS.com – Pasar tumpah di Kecamatan Tanah Merah, Bangkalan, Jawa Timur, pada puncak arus mudik lebaran Idul fitri kali ini, menyebabkan kemacetan arus lalu lintas, Sabtu (25/8/2012). Antrean kendaraan mencapai empat kilometer, baik tujuan Surabaya Pamekasan ataupun sebaliknya.

Puluhan petugas dari Sat Lantas Polres Bangkalan, petugas pasar, Pol PP dan Dishub, kewalahan mengatasi kemacetan itu. Ratusan pengunjung dan pedagang serta angkutan umum yang menaikkan dan menurunkan penumpang, menjadi penyebab utama kemacetan. Jalan pintas di sebelah timur pasar yang dijadikan alternatif saat hari pasaran, juga dijubeli pedagang ternak hingga memakan separuh badan jalan.

Miftahul Huda, warga asal Kabupaten Sampang yang hendak menuju Surabaya mengatakan, karena lamanya berada di dalam kendaraan disertai cuaca yang panas, anaknya sampai menangis menjerit. “Parah macetnya, anak saya sampek nangis karena betah ada di dalam angkutan umum kepanasan,” ungkapnya.

Sebetulnya problem pasar tumpah yang kemudian menyebabkan kemacetan bukan hanya terjadi pada waktu mudik saja, tapi memang banyak kota perlintasan yang meletakkan pasar di jalan penghubung antar kota. Yang namanya pasar, di kiri-kanan jalan pasti mengganggu arus jalan dan bikin macet, banyak orang menyebrang, parkir atau berhenti, pasti mengurangi lebar jalan dan ujungnya menambah waktu perjalanan.

Kenapa pasar itu bisa ada di situ?

Linear Pattern: Laut sebagai sumber penghasilan, kemudian di sebar keseluruh pulau.

Ini sesuai dengan morphologi kota. Memang kota kecil bentuknya mengambil sumbu penting kemudian melebar ke kiri-kanan jalan. “Dari sananya begitu” maksudnya kalau tanpa ilmu urban planning. Secara naluriah memang manusia akan menempatkan attraction di sumbu yang penting, dalam hal ini jalan.

Ada berbagai morphologi kota, bergantung dari perkembangan kota itu sendiri.

Contoh Batavia – Jakarta yang awalanya kota pelabuhan mulai tumbuh dari Utara (Sunda Kelapa) ke Selatan. Kemudian melebar ke arah Barat dan Timur untuk pemukiman. Beberapa kota kalau jaman dahulu di Indonesia pun tumbuh mengikuti sumber air, misalnya sungai kemudian melebar juga. Kalau sekarang, sumber penghasilan dan kehidupan diberikan dari jalan, infrastruktur pun tumbuh dari jalan, misalnya listrik, air, maka di sumber kehidupan itulah muncul attraction, ya pasar, ya sekolah, ya terminal, ya kantor-kantor, semuanya ditumplekin di satu jalan utama.

Tapi apakah keadaan itu harus dibiarkan? Polisi sudah angkat tangan, ini bukan masalah manajemen dan pengaturan jalan lagi, tapi sudah struktur kota atau menyangkut urban planning. Untuk menganggulanginya si pasar harus dihilangkan dari jalan utama.

Ya mudahnya saja, pasarnya yang harus dipindahkan, ke bagian jalan atau kota yang tidak mengganggu jalur penghubung antar kota. Jalan utama penghubung antar kota apalagi yang banyak cuman 1-1 jalur harus steril dari magnet-magnet keramaian. Ideal extremenya sih begitu.

Tapi kalau tidak memungkinkan pasar itu dipindah ya harus ada caranya secara teknis supaya keberadaan pasar itu tidak mengganggu. Contoh, buffering secara jalan (dibuat jalur lambat khusus pasar), pembuatan lapangan parkir pasar yang cukup (*ya jangan sampai tumpah). Pengaturan jam buka pasar.


Responses

  1. 🙂

  2. http://www.pwspeedtuning.wordpress.com cara sederhana meningkatkan tenaga mesin

  3. di bikin jalan memutar (outer ring road) untuk menghindari titik keramaian atau pasar

  4. disediakan area khusus, bg yg melanggar akan kena tusbol..

  5. untuk kasus seperti ini.. yang memiliki kekuasaan atas daerah tersebut untuk cepat menanggulanginya apalagi kayak kemarin yang merupakan jalur untuk mudik. tidak lagi memikirkan kepentingan pribadi yang jg ingin lebaran. kepala yang memimpin daerah tersebut harus tahu dengan kondisi wilayahnya serta mencari orang dengan cepat agar masalah pasar tumpah dapat beres dengan cepat. sehingga memudahkan masyarakat untuk melakukan perjalanannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: