Oleh: arantan | Agustus 11, 2012

Saran communication plan untuk penggiat keselamatan berkendara

Hadeh… gw bukan mengkaitkan CSR dengan ROI, yang namanya CSR di perusahaan yang bener sudah pasti nol ROInya. Ini kegiatan spending suatu perusahaan. Unit CSR kalau di XL malah bukan termasuk unit yang boleh menerima duit. Gimana bisa ROI? Kalau sampai ketahuan menerima duit pasti keluar internal auditnya XL, dipertanyakan duit dari mana???

*clear dulu.

Saya mau berbagi sedikit rahasia tentang communication plan secara umum, rahasia ini harusnya sudah diketahui oleh praktisi marketing secara umum. Supaya jelas saya nggak ngambil contoh kasus lain-lain saya langsung ke point-pointnya ya.

Evaluasi

Rapor tentang angka kecelakaan pertahun dari tahun ke tahun selalu buruk dan growthnya pun cenderung memburuk. Tidak terkait dengan aktifitas dan effort apapun yang sudah dilakukan penggiat keselamatan berkendara, angkanya memang nyatanya menukik terus. Artinya ada sesuatu yang bisa ditingkatkan (*dalam bahasa lembut saya takut menyinggung) soal effort tersebut.

Tenang dulu, yang pertama harus dilakukan adalah measure.

“If you can’t measure it, you can’t manage it.” -Peter Drucker

Tujuannya semoga sama: memperkecil angka kematian dan kecelakaan.

Lihat saja bagian-bagian mana yang harus di perhatikan, kita sama-sama tahulah, penyebab kecelakaan terbesar apa, ya dari tahun ke tahun itu-itu saja kok. Presentase terbesar selalu ngantuk, kurang trampil dan lain-lain kita bisa tahu sampai presentasenya dengan jelas.

Ini yang saya bilang berkali-kali sebelumnya, sizenya berapa?

Budgeting

Budgeting based on data.

Setelah tahu presentase, kita bisa atur soal posting budget. Sosialisasi untuk ngantuk, mendapat budget 30% dari total budget, untuk tidak trampil 20% dari total budget dan seterusnya. Tentunya angka presentase tadi hanyalah contoh.

Survey

Selalu survey per activity, survey dan indikator bisa dilakukan dalam berbagai tempat.

Mudahnya yang saya ingat seperti ini, sebelum sosialisasi keamanan berkendara bikin dulu FGD, focus group discussion atau kualitatif. Contoh, mau keluar campaign tentang ngantuk, kita mesti tahu dulu siapa yang suka ngantuk, dimana ngantuknya dan selanjutnya. Kita juga mesti tahu bagaimana cara mendekati si pengantuk? Lewat radiokah? lewat TVkah? lewat web, lewat flyer, spanduk? We have to do our homework. Kalau di marketing untuk FGD ini memang makan duit, tapi mau nggak mau suatu keharusan untuk dilakukan sebelum suatu effort keluar, tujuannya supaya ketika dikeluarkan… targetnya mengena dengan efektif.

Next… post activity survey. Pernah ikut training? Pada akhir training, biasanya si penyelenggara akan memberikan satu lembaran survey. Bagaimana kualitas si trainer? Apakah bahan yang disampaikan relevan? Apakah menarik apakah lucu? Tujuannya untuk perbaikan di kemudian hari.

Next… selain survey ujungnya tentu merujuk ke angka-angka keberhasilan. Kita bisa lihat tahun berikutnya setelah dilaksanakan sosialisasi bagaimana? Apakah ada perubahan angka-angka presentase?

Kalau angkanya masih buruk, berarti effort kita belum mengena secara pas. Kenapa belum berhasil? cari tahu, solve the problem. Bisa juga activity sosialisasi di suatu kota tidak menyebar ke kota lain, its OK, lihat data per region.

Contoh praktek: Sebelum penggiat keselamatan datang ke suatu tempat, sebar form isian sederhana. Disitu ada kolom data kecelakaan selama setahun terakhir, apakah peserta pernah mengalami kecelakaan dalam setahun terakhir? dimana? karena apa? naik apa?… kejadiannya seperti apa… Kemudian bikin activity penyuluhan… OKe… setahun kemudian survey balik lagi pada tempat yang sama dengan peserta yang sebisanya sama, gimana hasilnya? Apakah ada presentase angka turun ato malah naik? Seberapa naik? Seberapa turun?

Know your Audience

Saya coba tanya: Berapa banyak orang yang bakal meninggal karena mengantuk selama mudik lebaran? Apa effort bagi mereka? Siapa yang mengantuk, di titik-titik mana mereka mengantuk? Kenapa mereka mengantuk?

Bagimana bikin komunikasi bagi mereka?

Communication Plan

Again, dari data kecelakaan tahunan tersebut para penggiat keselamatan sudah bisa membuat kalender aktifitas, BTL – ATL dalam setahun. Contoh, berapa aktifitas untuk sosialisasi ngantuk dalam setahun, untuk sosialisasi kurang trampil, ngapain aja… Semua effort harus terukur.

Dari plan tersebut juga bisa diatur flow budget, flow resource, flow lain-lainnya lah…

Contoh: Sebelum beraktifitas kita sudah tahu si region butuh budget sekian masuknya ke rekening harus kapan, bentuk komunikasinya secara harian seperti apa?

Ayo semangat!!!

Sampai di level esekusi saya angkat topi dan menunduk dalam ke teman-teman di penggiat keselamatan berkendara. Aktifitas penggiatnya sudah OK banget, semangatnya pun sudah OK banget, malah punya person-person yang aktif secara nasional dan mudah digerakkan. Tapi mungkin di strategic planning dan communication plannya mungkin perlu ditingkatkan.

Sebisanya effort di lakukan berdasarkan prioritas sesuai dengan kebutuhan.

Kenapa demikian? Lha… contohnya yang jelas kembali lagi soal penggunaan handphone, 0.06 persen dengan growth Y0Y -70% tanpa sosialisasi. Tidak salah, tapi ingat, supaya mengena effort tersebut harus di lipat gandakan untuk sektor lainnya. Contoh, berapa korban jiwa karena mengantuk? Contohlah 20%, baiklah, jadi effort untuk sosialisasi anti mengantuk tentunya harus sekian kali lipat dari anti-penggunaan ponsel waktu berkendara. Effort termasuk didalamnya apa? Ya budgetnya ya aktifitasnya, ya sebarannya, ya kotanya.

Kembali lagi penyebab kecelakaan 0.06 persen dilakukan di 6 kota, sebar flyer, dibicirakan di seminar… Hebat! Bagus! Tapi kemudian 99.94 persennya bagaimana? effortnya harus 165 kali lipat! Misalnya sebaran kotanya harus(nya) 6×165 = 990 kota. Flyernya juga harus 165 kali lipat, di bicarakan di seminar pun juga harus 165 kali lebih banyak dari penggunaan handphone.

Ingat lagi… size nya berapa?

Waduh ribet sekali… saya cuman mau bagi-bagi flyer aja kok…

Pokoknya saya sudah melakukan sesuatu! Minimal saya lebih baik daripada Anda yang tidak melaukan sesuatu! Modelnya: Saya tidak mau dikritik!!! Apa yang saya lakukan sudah pasti bener daaaggggh!!!

Its OK pun. Tapi teman-teman ingat tujuan utama mulia kita. Sama dengan anjuran yang sering di dengungkan kita berkampanye safety riding untuk kepentingan bersama, kita berkampanye untuk menyelamatkan nyawa manusia. Saat in sudah harus sedikit advance punya target yang jelas dan terukur. Saya yakin bisa kalau mau.

Sanggupkah ber revolusi diri teman? Ingat jatuhnya nyawa menunggu perubahan.

Backnote….

Lha tadi kan situ (saya) sendiri sebelumnya ngomong ROI?

Permisalan haduh!

Hadeh. Sama juga di marketing, anggap konsumen sebagai target komunikasi. Presentasikan effort berdasarkan kebutuhan. Semoga kali ini jelas. Saya hubungkan ke ROI karena kalau di XL, budget komunikasi di atur berdasarkan kemungkinan perolehan. Contohnya begini, posting budget komunikasi untuk prabayar sama pascabayar gedean mana? Ya siapa penghasil terbesar? Saya cuman mau bilang harusnya kampanye keselamatan berkendara juga sanggup melakukan kampanye berdasarkan jumlah nyawa yang semoga bisa diselamatkan…

Let’s discuss.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: