Oleh: arantan | Januari 5, 2013

I pray for Aceh part two

Soal ini:

Lhokseumawe | acehtraffic.com – Awal tahun 2013 tiba-tiba walikota Lhokseumawe keluarkan himbauan yang membuat heboh. Selasa 2 Januari 2013 kemarin, walikota Lhokseumawe menyatakan akan memberlakukan larangan Ngangkang atau Phang dan Pheng (bahsa aceh red)  bagi perempuan yang dibonceng diatas sepeda motor. Kamis 3 Januari 2013
Dasni Yuzar Sekretaris daerah Kota Lhokseumawe, mengatakan peraturan itu adalah bagian dari menegakkan syariat islam secara kaffah khususnya di Kota Lhokseumawe. Pemberlakuan tidak boleh ngangkang saat duduk dibonceng diatas sepeda motor adalah sebagai kesempurnaan dari penerapan Qanun (Perda) No 14 tahun 2003 tentang  Syariah Islam di Aceh.
Dan soal ini pun sudah sampai ke luar negeri, seperti di posting di situs asphalt and rubber di sini.
asphalt-and-rubber

The regulation will now mean that women need to sit side-saddle when a passenger on a motorcycle, though it would seem that the regulation doesn’t apply if another women is driving the motorcycle. According to Mayor Suaidi, women can still sit straddled on the motorcycle when they are riding alone, assuming they are appropriately dressed.

For a little background, Indonesia is the world’s largest Muslim-majority country (81% of the population follows Islam). However, while the rest of country practices a moderate form of the religion, the Aceh province, which has had special autonomy since 2001, is the only area in the democratic country that implements Sharia law.

Opposition in the Muslim community has already voiced its concerns about Suaidi’s proposed regulations, citing that Islam’s holy texts are mute about the proper way to ride as a passenger on a motorcycle. ”How to ride a motorbike is not regulated in Sharia. There is no mention of it in the Koran or Hadiths,” said liberal Islamic activist Ulil Abshar Abdalla on his Twitter account.

Pendapat saya …

Abstain.

Secara keamanan dan keselamatan tentu lebih aman kalau boncenger duduk menghadap depan dengan posisi kaki sama seperti posisi kaki si supirnya. Pembagian berat lebih aman dan sebagainya. Cuman itu  standard saya, berdasarkan teori dan praktek. Saya pun pernah waktu itu bawa teman wanita pas lagi agak kencang sekitar 70 kpj di jalur kanan mendadak harus belok kiri, saya harus engine break dwueng-dwueng-dwueng, teman boncenger juga kompak menahan dengan menaruh tangan ke punggung saya kok.

Cuman sekali lagi, itu standard saya, saya pun belum pernah menginjakan kaki ke Aceh, sejarah, budaya dan kebiasaan disana seperti apa pun mohon maaf, saya belum mengerti. Setahu saya materi iklan untuk propinsi Aceh pun harus dibedakan. Materi promo untuk seluruh daerah Indonesia bisa sama, tapi materi untuk promo khusus di Aceh harus berbeda. Si model akan memakai baju muslim, dengan kerudung, iklan beda – billboard beda. Sehingga dalam setiap kali photoshoot, modelnya selalu disiapkan yang umum dan appropirate for Aceh. Untuk efisiensi marketing dan promo sebetulnya ini menyulitkan dan costly. Tapi apakah ada yang berani menyebut ini kebodohan? Tentu tidak.

Tentunya soal materi visual promo dan boncengan memang soal lain…

Tapi, ini sudah menandakan, memang Aceh punya kekhususan atau istimewa. Kita tentunya juga sulit untuk mencerna keterbukaan dan budaya ala barat, tapi paham dan nonton filmnya saja. Tentunya kita juga membiarkan dan menghormati saja para Barat tersebut punya standard seperti itu. Intinya saya tidak bisa berpendapat apalagi memperjuangkan soal-soal yang saya tidak paham, apalagi kalau menyebutkan “kebodohan” atau “jaman gila” waduh…

Balik ke Aceh, pendapat saya, asal aturan tersebut memang datang dari keinginan seluruh Aceh, ya silahkan. Dalam arti seluruh Aceh adalah juga termasuk wanita asli Aceh, suara dari mereka-mereka yang biasa membonceng di Aceh. Konsekuensinya soal keselamatannya pun tentu harus dipkirkan dan diteliti, bagaimana mereka atur soal kemanannya?

Tapi anyway, untuk ini pendapat saya adalah tidak berpendapat karena saya bukan orang Aceh. Biarlah Aceh menentukan kebijakannya sendiri. Konsekuensinya mereka juga harus teliti dan compensate lho.

Anyway saya juga bingung sih… kenapa yang protes soal ini para Bapak-Bapak ya?

About these ads

Responses

  1. perempuan yang slalu jd korbannya

  2. Sangat setuju… Kalo gak ngerti Orang Aceh, adat istiadat dan sikon disana gak usah menjudge!!!
    Saya heran koq ada blogger yang sekarang malah jadi PAHLAWAN KESIANGAN!!! Kalo ngerti motor tapi gak ngerti Aceh mending Abstain aja…
    Kalo ngerti motor tapi juga ngerti Aceh ya silakan kasih ide2 revolusioner untuk menjembatani antara syariah serta adat kesopanan dengan safety riding… bukan begitu???

    like this posting

  3. ane kira hal ini dapat disamakan dengan keadaan di India, dimana motor harus ada sari guard, karena banyak perempuan india yg masih menggunakan kain sari. dan di India sebagain besar perempuan (dan semua pemakai kain sari/mirip pakaian adat jawa) duduknya menyamping, di saudi bahkan setau ane mereka laki-laki aja duduk menyamping, krn taku dianggap kaum nabi luth/sodom.

    dan setau ane hal ini blm ada yg mempermasalahkann, trutam yg india, apakah bisa kita katakan mereka bodoh?

    itu hanya faktor skala prioritas. prioritas menjaga diri(posisi duduk) lebih tinggi dari safety. krn safety krn posisi duduk bukan segalanya, lebih ke prilaku berkendara.

    dengan logika yang sama, saya bisa katakan naik motor/mbonceng motor itu bodoh, krn kalo tabrakan biasanya yg belakang jatuh lebih parah.

  4. Kalau aku jelas berani menyebut ini kebodohan. Soal zinah, pemerkosaan, pelecehan sexual, yg salah jelas pria, tapi kok yg dihukum wanita. Buat yg setuju aturan seperti ini, ada peribahasa, Jaka Sembung bawa golok, nggak nyambung ******!

    Dan anehnya lagi, orang yg otaknya cabul, mikirnya selangkangan terus bisa jadi walikota?

    • Maaf bro, di Italy malah ada perdana menteri jg otaknya lebih cabul yg cuma mikirin selangkangan… dan itu fakta lho.. saya gak asal ngomong kaya sampeyan..

      • Bagian yg asal ngomong di mana? Cuma orang berpikiran cabul yg terangsang dgn hal yg sangat sepele. Lagian kalau ada pelecehan sexual, yg salah cowok, tapi kenapa ceweknya yg dihukum?

  5. memboncengkan boncenger yg menyamping macam ibu2 memang kestabilan kurang, dan bisa membahayakan rider dan boncenger. klo pemko aceh sudah menyiapkan SURGA untuk para korban ini nantinya kenapa enggak. dasar pemko gak tau safety riding!

    termasuk pahlawan kesiangan nih. gak apapa lha :cool:

  6. Ini, sekali lagi, adalah bentuk penerapan aturan syariah yg kebablasan. Alasannya katanya menjaga marwah/martabat perempuan.

    Seberapa merangsangnya sih, siluet pinggang-bokong-paha perempuan duduk ngangkang di motor? Toh mereka kan pakai celana panjang, bukan hotpants kayak alay2 di Jakarta?

    Saya yakin, kalau begini, lama2 pakai celanan panjang pun perempuan akan dilarang.

  7. Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

  8. secara keamanan dan teknis berkendara abstain ga ?

    • Kalau soal keamanan berkendara, lebih aman menghadap depan mbah

  9. mindset primitif ya perilaku primitif.

  10. like this banget…. punya pendirian…. gak ikut arus mainstream…. mantafff!!!

  11. Ngapain sih pada nyangkutin masalah agama?? emang bonceng nyamping identik sama salah satu agama??? open mind bro!!! ga usah jauh2
    .. di jawa itu masih ada org yg pake kebaya / jarik
    . dan mbah putriku salah satunya… trus saya klo hrs ngikut mindset sampeyan berarti harus nyuruh beliau pake celana panjang waktu mau saya antar pergi naek motor??? picik amat sih… gak usah bawa2 unsur agama deh… ini juga masalah budaya… kalian yg hidup di kota besar mungkin gak pernah bisa ngerti kenapa ada org yg masih menerapkan bonceng samping…

    Saya care soal safety.. ketika saya bonceng mbah putri saya, ya saya tinggal menyesuaikan perilaku berkendara saya dgn lebih hati2… dan alhamdulillah bertahun-tahun saya membonceng ibu, mbah putri, juga pacar saya dgn posisi menyamping aman2 saja…

    jadi kesimpulannya membonceng menyamping masih aman asal disertai perilaku berkendara yg ekstra hati2…

    • Nggak ada yg ngelarang bonceng samping walaupun kurang aman. Masalahnya, ketika cara bonceng yg lebih aman malah dilarang, hanya gara2 otak mesum. Penting mana, keselamatan jiwa atau otak mesum? Mana yg haru diperbaiki, cara bonceng atau otak mesumnya?

    • Lha memang perda itu katanya sbg bentuk penerapan syariat Islam. DI Aceh kan punya keistimewaan tuk mengakomodasi syariat Islam dalam perundangannya.

      Ada pewajiban mengenakan kerudung tuk wanita, hukum cambuk untuk pezina. Nah skrg yg teranyar ini, larangan mengangkang di motor.

  12. kenapa yg protes bapak2? atau yg pria yg bakalan mebonceng? karena seperti pengalaman anda sendiri bilang, bonceng menyampin itu tidak seimbang dan berbahaya…klo karena manuver dan malah kecelakaan karena ketidakseimbangan tadi padahal tidak ada faktor external/orang lain, ntar yg di salahkan siapa? yg di hukum siapa?

  13. safety yaaa memang soal perilaku. hampir 100% accident disebabkan perilaku yg salah!! dan seperti biasanya penyesalan terjadi belakangan. jgn sampai kita mendukung sesuatu yg bisa mencelakakan diri org yg kita sayang. ingat!! sepandai-pandainya tupai melompat pasti jatuh juga….

  14. Jaman dulu kalo membonceng nyamping pun gak begitu masalah, ane liat contoh case bapak dan mbok saya. Tiap hari menempuh 10 km sekali jalan dengan membonceng menyamping, karena yg nyetir langsung menyesuaikan kecepatannya. Yogh gak mungkin dengan bonceng menyamping dikebut kecepatan 80-100 kpj.

    Lha dilihat case sekarang, anak muda sekarang cenderung berlomba2 top sepit, lha kalo mbonceng nyamping pasti gak imbang dalam manuver toghh..

    Jadi mending lihat safety gak usah digeneralisir, kalo mbonceng nyamping pasti gak aman…. pernyataan yg keblinger

  15. Ya memang betul, duduk mengangkang tidak pasti tidak bakal celaka. Orang2 zaman dulu boncengan juga nyamping. Namun, org zaman dulu pula, Kapolri Hoegeng yg mewajibkan duduk mengangkang bagi perempuan boncenger. Sbg Kapolri, tentunya almarhum punya rationale yg tepat untuk mengeluarkan kewajiban ini.

    Beliau juga yang mewajibkan pakai helm. Untuk ini, mereka yg ngeyel pasti menyanggah: meski pakai helm pun kepala bisa pecah juga kalau kecelakaan. Ya, benar.

    Memang pakai helm tidak 100% jamin kepala pasti tidak pecah;
    Memang duduk ngangkang tidak 100% jamin kalau laka pasti selamat
    Apalagi kalau tidak pakai helm?;
    apalagi kalau duduk nyamping yg jelas2 mensyaratkan keseimbangan ekstra?

    Karena itu, pasti ada prosentasi kepala tidak pecah jika pakai helm bermutu (yg pastinya lebih besar dibandingkan jika tidak pakai helm);
    Pasti ada prosentasi selamat jika ngangkang (yg pastinya lebih besar dibandingkan duduk nyamping). Kepastian itu dikejar dengan ikhtiar, upaya.

    Tuhan menyuruh manusia berupaya, berikhtiar. Namun, upaya ini dinegasikan oleh larangan mengangkang tsb. Konyol, kan?

    • Maaf, typo. Kata ‘pasti’ di alinea keempat mesti dicoret.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 236 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: