Oleh: arantan | November 19, 2012

Pembatasan 200 km istirahat nggak mustahil kok, gampang akh, jangan batasi pakai GPS!

Saya di rest area alias warung pinggir. Istirahat dulu aja, sebelum lanjut jalan ketika touring itu keharusan

Tulisan ini dibuat untuk sumbangan pemikiran tentang mekanisme soal menjaga jarak tempuh pemotor 200 km sebelum istirahat. Terhadap aturan itu sendiri saya “lumayan setuju”. Karena sebetulnya maksudnya baik kok, tinggal pelaksanannya saja bagaimana? Ada teman yang bilang pencegahan atau aturan pemerintah ini tidak mungkin dilakukan atau kalaupun dilakukan pasti effort dan biayanya terlalu besar. Ada yang bilang lagi juga, lha saya baru keluar rumah aja juga bisa ketabrak kok… wah, ya memang bisa, ini langkah pencegahan bukan berarti menghilangkan kecelakaan.

Solusi saya sederhana saja dan mungkin bisa menambah pendapatan daerah.

Pernah lihat rest area di pinggir tol untuk mobil dan truk kan? Gimana kalau rest area tersebut juga dibuatkan untuk jalur non tol yang biasa dipakai pemotor dengan pemaksaan. Mekanismenya begini, semua motor yang mau keluar kota harus melewati sebuah checkpoint pengambilan kartu, di checkpoint berikutnya kalau pemotor tersebut belum lewat batas 200 KM pemotor boleh lewat saja. Tapi begitu checkpoint 200 kman, pemotor harus masuk rest area dimana jam masuknya direkam. Motor tersebut harus tetap berada dalam rest area selama… taruhlah 20 menit. Setelah 20 menit si pemotor baru bisa melanjutkan perjalanannya dengan menukar kartu.

Contoh realnya begini.

Contohnya ada si pemotor mau mudik, pulang dari Jakarta menuju Semarang yang berjarak 460 KM versi google maps.

Keluar dari Jakarta dia ambil karcis, di tiap-tiap kota besar seperti Cibitung – Kerawan dibuat checkpoint, tapi si pemotor tinggal menunjukkan kartu ke petugas atau scanner tanpa operator. Baru kira-kira di checkpoint Indramayu yang jaraknya katakanlah 200 kman, si pemotor tersebut harus beristirahat. 20 menit kemudian baru si pemotor tersebut bisa keluar dari checkpoint Indramayu. Di tempat rest area bisa disediakan fasilitas untuk mencukupi kebutuhan dasar, ya SPBU, toilet, cemilan, souvenir, restoran, tempat pijat, tempat tidur.

Solusi begini pastinya memberikan penghasilan daerah dan juga tentunya menambah pendapatan negara dari pajak.

Gerbang MRT Singapore, ya loketin azalah…

Kendalanya jalur motor tentu bukan seperti jalur tol, ada banyak jalan antar kota yang sulit untuk di block. Tapi ya ujungnya memang kembali lagi ke si pemotor. Repot? ya pastinya, tapi ini demi keamanan.

Intinya sih, ini baru alternatif satu cara pastinya kalau serius mau dipikirkan dan kalau mau di laksanakan, ya pasti bisa! 

About these ads

Responses

  1. waktu istirohatnya (didalam checkpoint) bebas,jgn cuma 20-30 minit…

    • Iya, betul minimal 20-30 menit.

  2. dari pada cek poin ini dan itu yg melelahkan dan biaya bngun kenapa seh pmerintah ga konsen bngun transportasi massal dulu

  3. kalo pake jalur ndak resmi…gimana sob..ane muter muter cianjur selatan aja 600km…padahal treknya jakarta cianjur ciwidey cidaun cianjur jakarta cuma melingkar doang…
    masalahnya adalah aturan yang lagi diwacanakan……kalo masalah check point itu pemberdayaan..tapi aturan yang gak puguh itu yang bikin bingung..terbatas hingga 200km…itu dimulai dari mana..kalo pake jangkar itungannya gimana..sungguh buram..aturan ini..padahal kan targetnya mudik…buatlah mudik senyaman dan semurah mungkin..gak pake macettt soookk itu yang dipikirkan…hopless

    • Posting saya sebatas membahas tentang mekanisme bagaimana membatasinya. Bisa/tidak membatasi? Yang menurut saya bisa. Soal bagaimana kalau muter dan ini dan itu, saya nggak mau bahas itu. Sama aja dengan seatbelt misalnya, gimana cara meriksanya? Gimana kalau ada org malas pakai? Ya nggak bisa 100% mas.

  4. Nah, klo tuh motor plat B, saat mudik, motor di kirim via kereta nyampe semarang/jogja, lha khan melanggar? dia gak pake rest area, tau2 mudikersnya jalan2 di semarang/jogja di setopin trus dikenakan pelanggaran lebih 200km

    trus klo ide bro ttg rest area di lakukan, bisa jadi pungli tuh pas periksa2 + infrastruktur yg bakal berebut jalur kendaraan lainya

    klo saya sih dari pada membatasi jarak tempuh, lebih baik membatasi muatan motor karena motor itu sebaiknya dalam jalan luar kota + jarak jauh, cuman 1 orang dengan beban atau 2 orang dengan beban minimal…

    selama ini khan naik motor bisa 3-4 orang, belum barang2nya…lebih baik itu aja yg di buat aturan daripada pembatasan jarak motor yg membatasi dan pemeriksaanya masih bisa di abu2in…

    karena klo beban berlebih khan keliatan banget ama orang2, entah petugas, wartawan atau sesama pengendara, dan klo kita naik motor saranya bisa ampe 4 jam, dengan beban berat dan tanggung jawab terhadap yg di bonceng, malah menguras tenaga dan pikiran dan lama kesangupan berkendara seharusnya bisa turun jadi 2-1 jam saja…

    • Bert, kalau kirim naik kereta ya nggak dapet karcis keluar kan. Tahu-tahu sampai di kotanya ya nggak melanggar.

      Rest area sama seperti mobil di pintu tol bro, aman-aman saja. Nggak usah pakai operator kalau takut pungli, pakai scanner mesin aja.

      • nah itu dia bro, masalahnya khan aturan awal gak boleh lebih dari 200km bro, nah klo ini di tambah/di rubah harus istirahat per 200km berrti ada mekanisme per sekian kilo ada pengecekan…

        yg runyam misal bro arantan ke bandung dari ambassador, nah temen bros, sebut aja arif ke bandung tapi startnya dari pasar baru, bro arif dan bro arantan rutenya sama, ke bandung, jalurnya sama, cuman bro arif kilometer startnya udah beda, misal postnya cuman atu nih dan pas 200km, dan bro arif kelebihan km, apakah ada punisment?

        belum lagi pake mesin, misal gak pake orang, ada mekanisme antrian, ini akan nambah macet belom lagi posnya dimana karena pos ini harus terintegrasi dgn tempat istirahat. gak semua pom bensin punya lhana luas untuk parkir n istirahat motor dan siapa yg nyediain? klo mudik banyak yg mau nyediain sekalian promosi dan csr.

        klo ini menjadi aturan pasti ada sangsi, tapi klo cuman di suruh istirahat, dan klo gakmau istirahat harus ada hukuman, saya rasa rada aneh sih…dan klopun di terapkan saya kira hanya akan di berlakukan dimana kondisi daerah ramai, gak di daerah yg jalan aspal tapi membelah hutan hutan…

  5. ide yang mungkin bisa di jadikan masukan untuk pemerintah, kita tunggu aja pemerintah mau gimana kedepannya, jangan asal bikin wacana/peraturan tapi gk di terusin dan ujung2nya malah di abaikan lagi

  6. Ya pada akhirnya yang paling penting adalah kesadaran dari masing2 biker tentang pentingnya keselamatan, pemerintah hanya akan buang2 dana, energi dan waktu aja klo mau ngurusi orang per orang, ada aja alasan untuk menjadi (tidak) tertib.

    Tapi ide untuk mengadakan rest area pada jarak tertentu harusnya cukup memungkinkan, peluang bisnis baru pula, untuk daerah2 yang agak pelosok ini berpotensi menjadi titik2 sentra perekonomian baru. Hanya untuk pengaturan pengawasan motornya bakalan membutuhkan usaha,teknologi dan biaya lebih.

    Mungkin klo di rest area2 ini disediakan spg yg cantik2 mungkin biker2 lebih bersedia mampir dengan sukarela ( tanpa disuruh2 atau diwajibkan peraturan2 yg terlalu ribet) ^^

  7. setuju sama bro robert, kalo mang akan ada pengecekan seperti itu, dan pos pengecekan juga terbatas, mau antri berapa lama?? lha wong pintu tol antri 30 aja pak dahlan isakan dah bentak2.. dan perlu di ketahui jalan/rutenya juga banyak, apa semua jalur antar kabupaten/kota harus ada pos pengecekan?? kayak pake paspor donk..
    dan terus kalo seumpamanya ada pos di indramayu, apa cuma yang start dari indramayu saja yang di cek?? dari jakarta dan banten?? semua juga lewat jumlahnya berapa??? jutaan mungkin. kira2 menimbulkan kemacetan g? ribuan orang lewat dalam hitungan menit.
    wancana ini kan pertama untuk mengurangi angka kecelakaan saat mudik. Ya betul mas robert buatlah sarana mudik itu terasa nyaman. dan kalo ada pembatasan ya betul juga kalo dibatasinya barang bawaan, kiranya menggangu saat mengendarai dan berpotensi menimbulka kecelakaan baru di tindak.

    • Pernah lihat scanner barcode? tinggal tempel bisa jalan terus. Tapi memang kendaraan perlu stop, keluarkan kartu dan tempel. Tapi tanpa transaksi jadi harusnya per motor bisa cepat, kecuali ada transaksi keluar duit, butuh kembalian. Lha mobil pun bisa kok disuruh berhenti antrian tol, sudah biasa kan?

      Untuk yang semua atau tidak di cek, semua harus lewat pintu yang sama, di filter by kartu/karcis. Ini prosedur umum di pintu tol mas.

      Butuh berapa pintu? Jalan utama antar kota umumnya satu kan? Memang ada anakan jalan tapi tentunya frekuensinya jarang dilewati. Buat pintu tol aja bisa kok? tinggal dibuat gate saja.

      Mudik nyaman … bisa kok pakai bis. Ada yang isteri dan anak di naikkan bis, sementara Bapaknya naik motor pulang kampung. Kenapa? karena butuh alat tranportasi untuk di kampung. Lha? pasti pikirnya angkutan umum di kampungnya yang harus dibetulkan? Ya mungkin memang sudah betul, tapi tidak mampu menampung beban kagetan untuk mudik setahun sekali kan?

  8. pengaplikasian checkpoint jd teringat palestina.. jalan bentar udah dicegat tentara..
    pikiran negatifnya, bakln jd proyek koruptif.. :-D ,plg berharap klo sistem SIM di perketat lg, jd g smbarang orang blh mengendari kendaraan.

  9. gampang,
    pabriknya bikin motor yg akan ngasih peringatan pada pengendara jika motor nyala dan digunakan terus-terusan 200km. bisa dengan sinyal suara pengingat, atau penurunan speed motor otomatis setelah toleransi beberapa km atau apalah…otomatis mau gak mau ridernya bakal menepikan motor dan cari tempat istirahat terdekat.

  10. pembatasan 200km istirahat memang usulan yg bagus. secara pribadi saya yg juga pengendara motor, berkendara kira230 km sekali jalan saja terkadang capek; macet; menghindari jalan berlubang, menghindari kendaraan lain dll; capek fisik dan capek mental. apalagi jika dikalikan s/d 10x lipat. namun hal ini memang kembali ke masing2 pengendara motor. apa yg dicari. cari aman atau kejar waktu.

    usulan ya hanya sebatas usulan. mekanisme pengecekan ya nihil kecuali dan hanya kecuali jika ada suatu mesin online ber-gps tracker yang terpasang fix dimotor dan terhubung ke komputer pusat dan saat menghidupkan motor harus ‘absen’ dulu ke komputer pusat. dengan begini jarak motor dan lokasi motor bisa dipantau. bila lewat jarak tertentu bisa diingatkan. bila tak ada orang ke 2 yang memantau tentu hal ini sulit dilakukan. toh ada yang pantau saja terkadang sama2 tidak tahu malu….. coba lihat para pengendara motor yang selalu berada di depan garis stop saat lampu merah dan cenderung menghalangi lajunya kendaraan dari sisi lain.

  11. wacana aturan ini kayanya terlalu repot deh pengaplikasiannya,coba seperti yg checkpoint kartu2an,butuh biaya berapa aja tu untuk sarana prasarananya?SDM apa bebas dari kongkalikong?kalo belum percuma aja bikin ini itu.trus pengontrolan motor yang lewat gmn?kan ada rtusan bahkan ribuan yg lewat tiap harinya,apa petugasnya mau mantengin motor seharian?apa ga milih tidur ato ngopi di warung aja?

    saya rasa masalah ini memang dipikir utamanya buat arus mudik,jadi pemerintah seharusnya menyediakan transportasi massal yg baik setelah itu harus “memaksa” masyarakat untuk memakainya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 236 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: